LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban meminta pemerintah untuk menerapkan lockdown atau karantina wilayah selama dua pekan, guna memperlambat penyebaran virus Covid-19.

Ia juga mengingatkan positivity rate Covid-19 di Indonesia sudah hampir 40 persen.

Menanggapi hal itu, seorang warga Kota Bandung yang disapa Claudia (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan, mendukung penuh atas usulan dari IDI tersebut.

Menurutnya, daripada Pemerintah hanya melakukan penyekatan di sejumlah ruas jalan, jam operasional dibatasi, maka lebih baik trial and error terkait lockdown ini selama tiga hari.

"Nah nanti bisa dilihat hasilnya seperti apa, enggak ada pergerakan sama sekali," katanya kepada Ayobandung.com.

Tak hanya itu, ia menilai Pemerintah seperti halnya gali lubang tutup lubang soal PPKM mikro ini. Pasalnya, meski Pemerintah telah menggelontorkan berbagai bantuan kepada masyaralat, tapi masyarakatnya tetap berkeliarann ke sana ke mari.

"Masa tiga hari, pemerintah enggak mampu daripada kayak sekarang bantuan digelontorkan, tapi tetep kelayapan," terang lulusan S2 ISBI ini.

Warga Kota Bandung lainnya, Chasbi (25), pegawai di salah satu kedinasan di Kota Bandung mendukung usulan dari IDI tersebut. Ia mengungkapkan, usulan penerapan lockdown ini ia lebih melihat dari sisi kesanggupan dari Pemerintah.

"Pemerintahnya mau apa engga, ada dananya apa tidak," kata Chasbi di Balai Kota Bandung, Selasa, 22 Juni 2021.

Menurutnya, meski kini instansi baik pemerintahan maupun swasta memberlakukan Work From Home(WFH), akan tetapi di sisi lain ia menilai mobilitas warga juga masih tinggi.

Warga asal Kiaracondong ini sangat mendukung untuk diterapkannya lockdown jika memang anggaran Pemerintah masih memadai. Sebab, lanjut Chasbi, anggaran tersebut guna merangkul rakyat-rakyat kecil yang dalam mata pencahariannya sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL).

"Kalau pekerja kantoran mungkin ada pemotongan upah, tapi kalau seperti ojol, PKL, apa Pemerintah siap menanggung?," ujarnya.

Sependapat dengan Chasbi, Nur (25), warga Bandung Timur ini menerangkan, lockdownadalah upaya untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

Namun, kata Nur, Pemerintah juga mesti memikirkan secara matang untuk penerapan lockdown ini. Karena menurutnya, ketika lockdown diterapkan maka otomatis kegiatan perekonomian akan ikut terhenti.

Ia pun mempertanyakan kesanggupan Pemerintah dari segi anggaran ketika memang benar-benar akan menerapkan lockdown. Pasalnya, imbas lockdown akan berdampak pada rakyat kecil.

"Kalau lockdown, Pemerintah juga harus memikirkan bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakatnya, salah satu contohnya, makanan untuk masyarakat nanti bagaimana selama lockdown, terus nasib pekerja yang dirumahkan nanti bagaimana, apakah pemerintah akan sanggup membiayai kehidupan mereka selama dirumahkan," tandasnya. [*]