COBLONG, AYOBANDUNG.COM - Forest Walk Babakan Siliwangi merupakan kawasan wisata yang menyuguhkan perpanduan antara jembatan dan hutan. Kawasan wisata yang satu ini pun merupakan forest walk terpanjang di ASEAN dengan panjang kurang lebih 2 km.

Biasanya, banyak akun Instagram yang mengunggah keindahan pemandangan hutan kota ini. Salah satunya pada akun Instagram @explorebandung, foto-foto forest walk ini jelas menjadi penggugah selera bagi yang melihatnya untuk berkunjung ke sini.

Namun sudah lebih dari setahun, Forest Walk Babakan Siliwangi tutup. Pemerintah harus menutup paksa kawasan karena masuk zona merah covid-19.

Kondisinya kini memprihatinkan. Kayu jembatan mulai rapuh. Suasananya pun sangat sepi dan hanya terdengar suara burung saling bersautan.

Meski tak ada pengunjung, tapi masih ada beberapa padagang yang berjualan. Para pedagang merasa sudah tidak menikmati buah manis dari berjualan.

Keluhan sulitnya mencari uang di tempat wisata yang sudah ditutup ini diceritakan langsung oleh Yayan dan Hari. Mereka mengaku tak tahu harus bagaimana karena tidak punya tempat lain yang bisa dijadikan lapak berjualan selain di  Forest Walk Babakan Siliwangi.

“Jualan sekarang pas covid, sepi banget. Engga ada pengunjung, susah,” ujar Yayan ketika diwawancarai, Senin, 21 Juni 2021.

Yayan dan Hari mengaku saat ini hanya bisa sekadar gali lubang tutup lubang. Hal tersebut karena pembeli hanya orang-orang yang bertugas membersihkan area sekitar hutan dan warga gang yang kebetulan sedang ingin membeli makanan.

“Gaji enggak ada, makan harus tiap hari, belum cukup buat bayar listrik. Lebih parahnya lagi, belum ada pemasukan,” ujar Hari.

Saat Forest Walk Babakan Siliwangi tersebut masih berbentuk hutan belantara, Yayan dan Hari sudah berjualan di sekitar sana. Sebelumnya, lokasi forest walk tersebut merupakan arena warga untuk melakukan pertunjukkan-pertunjukkan tertentu.

“Dulu di sini tuh ada adu domba, kontes burung di sini. Kontes burung di sini (forest walk), adu domba di sini (tempat pembuangan sampah),” terang Yayan.

Yayan dan Hari mengaku banyak pengunjung memutar balik kendaraannya setelah melihat spanduk larangan berkunjung. Rata-rata pengunjung berasal dari Jakarta dan Bogor.

Pada bulan Januari, pemerintah Kota Bandung mengatakan tempat wisata ini akan kembali dibuka. Namun nyatanya hingga kini kawasan tersebut belum dibuka. Kenaikan kasus positif covid-19 yang selalu terjadi tiba-tiba menyebabkan Pemkot Bandung tak kunjung membuka Forest Walk.

Meski kondisi ekonomi memprihatinkan, namun Yayan dan Hari tetap merasa bersyukur karena masih bisa hidup dan sehat. (Cicin Yulianti)