SETIAP orang menyimpan hal-hal penting dalam ingatan mereka. Itulah yang pernah dikatakan Dorma padaku. Ia mencontohkan dirinya yang menyimpan baik-baik ingatan tentang sederet lelaki yang pernah mampir dalam hatinya. Ketika usianya menginjak seperempat abad, selusin kumbang telah terperangkap dalam pesona sahabatku itu. Hal sebaliknya justru berlaku padaku, seolah-olah telah aku ditakdirkan tumbuh menjadi seorang gadis pemalu dan belum pernah menjadi kekasih siapa pun.

Ingatan yang kumiliki jelas tak seindah milik sahabatku karena memang tak banyak pengalaman berkesan yang terjadi dalam hidupku. Meskipun demikian, aku berniat menceritakan segala hal penting dalam ingatanku kepadanya suatu hari nanti. Setelah mengingat perlahan-lahan, bila diurutkan sesuai dengan urutan abjad, kupikir aku memiliki hal-hal penting yang mungkin bisa kuceritakan padanya.

Air
Air menjadi bagian dari ingatan masa kanak-kanak yang sulit untuk kulupakan. Ulah kakak laki-lakiku yang sering membuat seisi rumah tercengang menjadi alasannya. Kala itu kami sering bermain di tepi sungai yang letaknya tak jauh dari rumah. Walaupun ibu sudah melarang kami melakukannya, kakak laki-lakiku selalu punya cara agar kami bisa menyelinap keluar dari rumah.

Suatu hari kakakku tiba-tiba mendorongku masuk ke dalam sungai. Tubuhku terbawa arus yang cukup deras. Ketika aku tersangkut di antara bebatuan, kakakku hanya berdiam di tepi sungai sambil tertawa-tawa. Karena sangat ketakutan, aku berkhayal monster air akan segera datang untuk memangsaku. Kedua adikku yang masih kecil hanya mampu berseru-seru minta tolong dan memanggil-manggil namaku.

Kupikir hidupku akan berakhir siang itu. Saat tubuhku mulai lemah, ibu datang untuk menyelamatkanku. Tawa kakakku lenyap saat ibu menghajarnya. Meskipun kakakku berkali-kali mohon ampun, ibu tak berhenti mengamuk. Untung saja kakakku merangkak dan berhasil melarikan diri. Ia lalu menghilang tanpa kabar. Sejak itu pula, kami tak pernah lagi pergi ke sungai. Sebelum ayah pulang, ibu berpesan agar kami tak pernah lagi mengungkit kejadian itu.

Boneka
Salah satu hal yang paling kuinginkan tapi sulit kumiliki adalah boneka besar yang terpajang di etalase toko Nyonya Frederich. Perempuan paruh baya yang kabarnya masih keturunan orang asing itu merupakan pemilik toko boneka terlengkap di kota kecil kami. Suatu hari sepulang sekolah, aku melihat sebuah boneka beruang cokelat berpita merah di balik etalase tokonya yang mengilap. Itu boneka tercantik yang pernah kulihat dan aku sangat menginginkannya.

Aku menabung semua uang jajanku di bawah kasur dan rela menahan haus dan lapar di sekolah. Apa daya, setelah menabung selama berminggu-minggu, uang yang kukumpulkan belum cukup untuk mewujudkan keinginanku.

Ketika aku melewati toko boneka Nyonya Frederich dua bulan kemudian, aku terkejut bukan kepalang. Boneka besar itu sudah tak ada. Aku bergegas masuk ke dalam toko dan bertanya kepada penjaga toko. Ia mengatakan boneka itu sudah terjual. Kedua lututku lemas saat membayangkan seorang anak sedang memeluk boneka itu dengan bahagia. Sambil berjalan pulang, air mataku terus mengalir tak tertahankan.

Sesampainya di rumah, aku mendapati kejutan lainnya. Kamarku seperti baru diamuk topan. Kasur di ranjang terbalik dan uang yang kusimpan di bawah kasur itu lenyap. Ibu masuk ke kamarku dan berkata bahwa ia meminjam uang itu untuk belanja keperluan dapur. Aku marah karena menurutku ibu mencuri uang itu. Ketika aku berterus terang, ibu malah mencubit pahaku hingga meninggalkan noda kebiruan. Sepanjang malam aku terus menangis hingga mataku bengkak. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi menginginkan sebuah boneka.

Cacing
Menurutku, salah satu hewan paling berguna di dunia adalah cacing. Tanah gembur di belakang rumahku menjadi surga bagi hewan hermafrodit itu. Bila kedua adikku merasa jijik setengah mati dengan cacing, maka aku mampu menghabiskan waktu seharian untuk mencarinya. Cacing-cacing itu biasanya kuberikan pada ayam peliharaan kami atau sebagai umpan pancing. Saat melihat ayam-ayam kami bertambah gemuk, aku merasa berterima kasih pada hewan hermafrodit itu.

Setelah duduk di bangku SMP, sesekali aku mengajak kedua adikku pergi ke sungai tanpa setahu ibu. Kami hanya duduk di pinggir sungai untuk memancing. Meski aku masih takut saat melihat air sungai, aku memaksakan diri karena kami membutuhkan ikan untuk lauk makan. Ibuku sering pergi dari rumah untuk mencari kakak laki-lakiku dan sebagian tanggung jawab rumah beralih ke pundakku. Menurutku, ibu melakukannya bukan karena ia merasa kehilangan, tapi karena ia adalah seorang ibu. Padahal, ayahku tampak tidak terlalu peduli dengan hal itu. Ibu memang selalu berpesan agar kami tidak mengganggu ayah dengan menceritakan hal-hal yang tak perlu.

Suatu malam, ibu pulang sambil mencak-mencak karena pencariannya sia-sia. Saking kesalnya, ibu menyepak semangkuk cacing yang sudah kukumpulkan dengan susah payah. Cacing-cacing itu menggeliat di lantai dapur dan membuat ibu berang. Sudah tentu aku yang menjadi sasaran kemarahannya. Sejak itu pula, aku berhenti mencari cacing di belakang rumahku.

Daun
Rumah yang kami huni sebenarnya milik ibu kandung ayahku. Satu-satunya peninggalan nenek yang senantiasa membekas dalam hatiku adalah daun-daun kamboja yang berguguran di halaman depan rumah. Semasa hidupnya, halaman rumah kami tampak asri seperti taman bunga. Para tetangga sering memuji kerajinannya mengurus bunga-bunga itu, bahkan meminta bibitnya pada nenek. Jika ada, nenek dengan senang hati memberikannya. Uniknya, banyak yang mengatakan bibit yang mereka tanam tak seindah tanaman yang dirawat oleh tangan nenek sendiri.

Kamboja adalah bunga kesayangan nenek. Ia menanam pohon kamboja berbunga putih, merah jambu, dan kuning di halaman depan rumah kami. Seluruhnya ada lima batang pohon. Jika pohon-pohon kamboja itu serentak berbunga, orang-orang yang melintas sering singgah untuk memujinya. Sayangnya, pujian itu justru hampir tak pernah terdengar dari penghuni rumah kami. Hanya aku dan kedua adik perempuanku yang menyukai bunga kesayangan nenek itu.

Pada suatu siang yang teduh, nenek terjatuh di halaman depan dan mengembuskan napas terakhir di bawah pohon kamboja. Ketika mata nenek terpejam, setangkai daun kamboja yang luruh mendarat di rambutnya yang telah memutih. Ingatan itu begitu lekat dalam ingatanku. Karena itu saat melihat daun kamboja yang berserakan di tanah, aku selalu teringat pada nenek.

Sepeninggal nenek, meskipun pohon-pohon kamboja itu masih tumbuh dengan baik, ibu juga menebangnya dan menyisakan satu pohon saja di depan jendela kamarku. Saat aku berusia enam belas tahun, ibuku juga menebang pohon itu. Ketika kutanya mengapa, ibu mengatakan bahwa menyapu daun-daun kamboja itu hanya membuang-buang waktunya saja.

Empat
Sederet kebetulan dalam hidupku berkaitan dengan angka empat. Kami empat bersaudara. Rumah kami merupakan rumah keempat dari jalan besar. Empat bulan setelah kepergian kakakku, adik bungsuku jatuh sakit empat minggu lamanya. Ayah pergi meninggalkan kami empat tahun kemudian. Saat duduk di kelas empat sekolah dasar, aku terjatuh hingga tulang kaki kiriku retak. Setelah kupikir-pikir, angka empat seolah melambangkan tragedi dalam hidupku.

Sebenarnya, kepergian ayah tak terlalu membekas dalam ingatanku. Ayah sering pulang malam hari dan jarang menyapa kami. Setelah mandi dan makan malam, ayah biasanya menghabiskan waktu dengan memelototi kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya. Sesekali kudengar ayah berseru pada ibu minta dibawakan ini dan itu. Aku tak pernah tahu persis apa pekerjaan ayah sebenarnya.

Bila bersirobok pandang dengan ayah, hatiku dipenuhi kecemasan. Sosok ayah seakan berada di dunia yang tak bisa kusentuh. Keberadaannya di sekitarku membuatku gelisah karena aku merasa seperti parasit yang mengganggunya. Sifatnya benar-benar berbeda dengan nenekku. Empat tahun setelah ayah meninggalkan rumah, kami mendapat kabar bahwa ia pergi untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Lagi-lagi, angka empat hadir sebagai tragedi dalam hidupku.

Fantasi
Hal yang mampu membuatku berpura-pura bahagia adalah fantasi. Seiring waktu, fantasi seperti pengunjung tetap dalam benakku. Karena itu, aku merawatnya baik-baik dan menuangkannya dalam bentuk coretan di dinding, buku gambar, halaman terakhir buku tulis, atau dongeng pengantar tidur untuk kedua adik perempuanku. Mereka sangat menyukai dongengku dan setiap malam memintaku bercerita sampai mereka tertidur pulas.

Ibu membenci fantasiku. Dia mengatakan bahwa aku hanyalah pengkhayal yang suka membuang waktu. Karena itu, aku harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Tak urung, suatu hari aku ketahuan juga. Ibu mendapati kedua adik perempuanku sedang tertawa-tawa saat mendengar ceritaku tentang seorang ibu tiri yang menebang pohon kamboja kesayangan putri raja. Ibu mengira aku sedang mengejeknya dan menghadiahi memar di bokong dan betisku hingga aku kesulitan duduk dan berjalan keesokan harinya. Tidur pun aku harus tengkurap. Karena kejadian itu, aku hanya berani menyimpan fantasi dalam benakku saja.

Setelah kuingat-ingat lagi, sepertinya hanya empat hal penting itu yang bisa kuceritakan pada sahabatku. Aku berniat memberitahunya malam ini juga saat tiba di rumah nanti.

Sengaja aku mengambil jalan pintas agar segera tiba di kontrakan kami. Lorong-lorong sempit yang kulalui saat ini mengingatkankanku pada sebuah film yang pernah kutonton di televisi. Aku bergidik saat mengingat adegan kekerasan dalam film itu dan mempercepat langkahku.

Lorong ini lebih sunyi daripada biasanya dan apa yang selanjutnya kualami benar-benar tak pernah kuduga. Saat ini seorang lelaki sedang menatapku sambil menghunus belati. Setelah kejar-kejaran singkat yang membuat dadaku sesak, pukulan telak di punggungku membuatku tersungkur. Sambil menahan nyeri, aku berjuang keras untuk bangkit, tapi aku tak gagal melakukannya.

“Tolong, tinggalkan aku. Kau boleh mengambil ini.” Aku memohon kepada lelaki itu sambil mengulurkan tasku dengan tangan gemetar.

Lelaki itu tertawa sinis. Tawanya memenuhi lorong remang tempat kami berada. Ia merampas tasku dan berkata, “Kau sedang memohon padaku? Memohonlah pada Tuhan, bukan padaku.”

“Kasihanilah aku,” bujukku dengan suara bergetar. Ketakutan benar-benar menguasaiku. Aku bahkan mencium bau pesing yang menguar dari rokku.

“Bagaimana kalau kubilang tidak?”

Matanya berkilat dalam cahaya remang. Kupikir lelaki itu tak menyadari apa yang sedang dilakukannya. Aku sungguh menyesal karena telah mengambil jalan pintas dan bertemu dengannya.

“Tolong, lepaskan aku ....” Aku mengiba.

Siulan kecil terdengar sebelum lelaki itu mengangkat belati yang berkilat dalam remang. Belati itu lalu menukik turun ke arahku.

“Ja-ngan… to-long ….”

“Diam! Jangan memohon padaku! Kau membuatku marah! Ibuku saja tak sudi mengampuniku, mengapa aku harus mengampunimu?” Lelaki itu meludahiku lalu berceloteh tentang rumah yang dikelilingi pohon kamboja dan keluarga yang ditinggalkannya.

Sudut mataku basah. Sebelum mataku terkatup selamanya, aku ingin mengatakan agar lelaki itu memaafkan ibunya, ibu kami. Namun, aku tak memiliki kekuatan untuk mengatakannya.

Maafkan aku, Dorma.Sepertinya, aku takkan pernah sempat menceritakan segala hal penting dalam ingatanku ini kepadamu karena segalanya harus berakhir malam ini.***

 

Tentang Penulis
Sejumlah cerpen dan puisi Fitri Manalu termuat di media daring dan cetak. Salah satu cerpennya terpilih dalam kegiatan “Nulis dari Rumah” tahun 2020 yang diselenggarakan atas kerja sama Kemenparekraf RI dan IKAPI. Fitri Manalu bergiat di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat. Saat ini, ia menetap di Medan.