PARONGPONG, AYOBANDUNG.COM — Bentuk modernisasi yang sangat dekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya urang Sunda, terlihat dari beberapa makanan yang kini sudah disajikan menggunakan cara barat.

Adapula penyajian masakan dengan metode ketimuran, tetapi bukan kebiasaan orang Melayu ataupun Jawa. Padahal, Jawa Barat sendiri memiliki ragam makanan khas tradisionalnya.

Dari alat memasak pun, masyarakat hari ini sudah banyak yang menggunakan kompor maupun oven. Padahal, alat memasak yang populer digunakan pada zaman dahulu adalah hawu.

Dikutip dari situs resmi 

kemendikbud.go.id , hawu 
berasal dari kata awu. Dalam bahasa Jawa, awu ini berarti "abu", sedangkan dalam bahasa Sunda, abu disebut sebagai lebu. 

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, hawu ini adalah sebuah tungku untuk melakukan kegiatan masak memasak.

Hawu terbuat dari beberapa jenis bahan, seperti tanah liat, batu, maupun batu bata. Walaupun sudah mulai ditinggalkan, hawu ini masih bisa ditemukan di beberapa toko perabot, namun sudah jarang. Rata-rata hawu yang dijual saat ini adalah yang berbahan dasar tanah liat.

Langka di pasaran, juga sudah jarang digunakan warga. Terkecuali di daerah pelosok, saat ini urang Sunda pun tidak banyak lagi yang masih menggunakan hawu.

Salah satu warga di Kampung Kebonhui, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, yang masih menggunakan hawu ini adalah Tarmilah. Ia memilki sebuah ruangan khusus di luar rumahnya sebagai dapur tradisional, di mana di sana diletakkan hawu. Ia mengaku sudah menggunakan hawu lebih dari 25 tahun.

“Sudah mengunakan hawu dari tahun 1991-an sampai sekarang masih masak di hawu,” ujar Tarmilah saat diwawancarai di kediamannya.

Menurutnya, rasa masakan yang diperoleh dari memasak memakai hawu sangat berbeda dengan masak menggunakan kompor. Aroma alami dan khas menurutnya menjadi daya tarik tersendiri untuk tetap menggunakan hawu.

“Suami saya lebih suka nasi yang dimasak di hawu, katanya lebih enak rasanya.  Jadi kalau lagi senggang saya masaknya di hawu, kalau lagi buru-buru di kompor atau rice cooker,” terang Tarmilah.

Tempat tinggalnya yang terletak di kawasan yang masih didominasi perkebunan dan hutan membuatnya tidak kesusahan dalam mendapatkan bahan kabar.

“Saudara banyak yang tinggal di darah Nagrag. Di sana masih banyak hutan kayu, jadi kadang mereka menjual kayu-kayunya ke saya, atau saya diberi oleh mereka dan kadang saya beli, atau dikasih kayu sama orang yang habis ngebangun rumah” ujar Tarmilah.

Selain Tarmilah, salah seorang warga lain yakni Asih, wanita paruh baya ini masih ikut melestarikan penggunaan hawu dalam kegiatan memasaknya. Berbeda dengan Tarmilah yang hanya menggunakan hawu untuk memasak nasi atau sajian tahunan seperti hidangan lebaran, Asih masih menggunakannya untuk memasak berbagai macam makanan.

“Dari dulu sudah pakai saya mah. Sudah lebih dari enam puluh tahun mah. Karena saya kecil juga orang tua udah masak pakai hawu juga,” terang Asih.

Menurut Asih, ciri khas dari hawu ini adalah adanya songsong yang digunakan untuk meniup api dan lebu yang bisa kembali digunakan untuk mencuci jelaga yang menempel di wajan. Ia pun berharap masih banyak orang yang menggunakan hawu untuk memasak sama seperti dirinya.

Selain untuk merawat tradisi, juga untuk melestarikan cita rasa khas yang memang tak tergantikan. [Cicin Yulianti]