Sejak tahun 1994, tanggal 17 Juni ditetapkan sebagai Hari untuk Memerangi Penggurunan dan Kekeringan (World Day to Combat Desertification and Drought). Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal tersebut berbarengan dengan dirangcangnya traktat UNCCD (United Nations Convention to Combat Desertification ).

Apa itu penggurunan?

Dalam traktat UNCCD, yang kemudian diadopsi oleh negara-negara anggota PBB, disebutkan bahwa penggurunan atau desertifikasi adalah degradasi lahan di daerah sub-lembab yang gersang, semi-kering dan kering yang diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk variasi iklim serta aktivitas manusia.

Menurut The European Commission's World Atlas of Desertification, yang dikutip Christina Nunez (2019), lebih dari 75 persen luas daratan Bumi sekarang sudah terdegradasi. Luas lahan yang terdegradasi ini kemungkinan mendekati 90 persen, pada tahun 2050 mendatang.

Bagaimana dengan Bandung? Mungkinkah Bandung suatu saat nanti menjadi kawasan gurun? Mungkin saja.

Salah satu dampak dari terjadinya proses penggurunan adalah banjir bandang. Banjir bandang dahsyat akan lebih mudah menerjang, terutama saat penggurunan terjadi di daerah hulu. Sejauh ini, sudah beberapa kali terjadi banjir badang akibat desertifikasi di kawasan hulu Bandung. Penyebabnya yaitu kawasan hulu yang semestinya ditanami vegetasi keras telah beralih fungsi untuk sejumlah kepentingan, seperti untuk permukiman dan perkebunan sayuran, yang membuat kawasan hulu semakin kekurangan pohon dan menjadi gersang. Buntutnya, begitu hujan deras, air pun langsung menggelontor tanpa terbendung ke kawasan hilir, menimbulkan banjir bandang dahsyat bercampur lumpur.

Kalau kita cermati, dari waktu ke waktu, hutan di kawasan hulu Bandung kian menipis. Ambil contoh kawasan Bandung Utara (KBU), laporan sebuah media lokal menyebut bahwa kondisi KBU sekarang sudah berada dalam kondisi sekarat. Dari total luas KBU yang hampir 40.000 hektare, sekitar 70 persen di antaranya telah beralih fungsi.

Tidak percaya? Cobalah luangkan sejenak waktu untuk jalan-jalan ke KBU. Selain terlihat semakin padat dengan bangunan yang merangsek hingga ke wilayah perbukitan, juga semakin banyak kawasan di KBU yang kekurangan pohon besar.

Menurut para ahli, di samping perubahan iklim, yang membuat temperatur Bumi semakin panas, deforestasi menjadi salah satu salah satu biang kerok terjadinya penggurunan.

Sebagaimana kita ketahui, hutan dengan aneka ragam pohonnya, memainkan peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem kita. Ketika pohon-pohon besar lenyap dan kawasan hutan beralih fungsi, maka tumbuhan-tumbuhan lainnya yang lebih kecil akan hilang pula, yang pada gilirannya akan semakin mempercepat proses penggurunan berlangsung.

Di sisi lain, masih menurut para ahli, praktik pertanian yang terlalu ekspansif serta penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan juga menjadi penyebab yang ikut mempercepat proses terjadinya penggurunan.

Belum lagi faktor tidak langsung yakni jumlah penduduk yang terus meningkat, yang menuntut pembukaan lahan untuk kepentingan permukiman dan kepentingan lainnya. Hutan-hutan nan rimbun akhirnya terpaksa dibabat. Dari sanalah kemudian berangsur mulai terjadinya proses penggurunan.

Tentu saja, penggurunan dapat kita tanggulangi. Asal kita mau. Salah satu ikhtiarnya dengan melaksanakan reforestasi. Berbagai kajian menyimpulkan reforestasi mampu mengatasi masalah penggurunan.

Maka, dalam konteks Bandung, reforestasi perlu pula dilakukan. Alangkah bagusnya jika reforestasi ini bukan cuma di kawasan hulu Bandung. Tetapi juga dilakukan di kawasan pusat Kota Bandung.

Sekitar 50 tahun terakhir ini, Kota Bandung telah kehilangan banyak pohon. Seperti telah disebutkan di muka, berkurangnya jumlah pohon memiliki kaitan erat dengan proses penggurunan. Kita sama sekali tidak ingin melihat Bandung pada akhirnya menjadi sebuah kota gurun. [*]