LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Kabupaten Bandung Barat sering kali menjadi  daerah yang ramai dikunjungi oleh wisatawan. Hal tersebut dikarenakan daerah ini memiliki banyak destinasi wisata.

Bahkan, tidak sedikit pengunjung dari luar negeri ikut meramaikan beberapa tempat wisata di sini.

Satu hal yang identik ketika wisatawan berkunjung ke tempat wisata, yakni pulang membawa oleh-oleh atau buah tangan. Selain kudapan atau pernak-pernik, wisatawan yang berkunjung ke Bandung Barat akan disungguhkan dengan oleh-oleh hijau berupa tanaman hias.

Wisatawan bisa melihat keberagaman tanaman hias ini di sepanjang Jalan Sersan Bajuri, Parongpong. Beberapa wisatawan lebih akrab dengan nama Jalan Cihideung. Keberagaman dan melimpahnya produk Florikultura ini menjadikan daerah Cihideung dikenal sebagai sentra tanaman hias di Bandung.

Berburu Kaktus dan Sukulen

Ramainya wisatawan yang membeli oleh-oleh tanaman hias dirasakan langsung oleh Fajhar, pemilik toko Queen Island yang terletak di Jalan Sersan Bajuri, Cihideung. Pria yang sudah melakoni bisnis tanaman hias hampir selama enam tahun tersebut mengaku bahwa pendapatannya meningkat sejak adanya pandemi.

“Waktu pandemi ini, sangat banyak pendapatannya, bisa hampir sepuluh kali lipat,” ujar Fajhar ketika ditemui di kiosnya pada Jumat, 11 Juni 2021.

Wisatawan yang berbelanja oleh-oleh di kiosnya ada yang kemudian menjadi langganan. Pengunjung kiosnya pun didominasi oleh wisawatan yang berasal dari luar Kota Bandung seperti dari Jakarta.

 “Rata-rata kalau di kios saya mah wisatawan. Atau ada juga wisatawan yang dia langganan ke sini lagi belanjanya,” terang Fajhar.

Selain kaktus, Fajhar menjual berbagai macam jenis tanaman lain seperti alokasia dan monstera, dua dari sekian jenis tanaman yang pamornya kian meningkat kala pandemi ini.

 “Campur ya, ada kaktus, sukulen, terus ada jenis-jenis monstera, raphidopra, alokasia, calathea”, ujar Fajhar.

Fajhar pun menjelaskan bahwa wisatawan memang menjadikan kaktus dan beberapa tanaman lain sebagai oleh-oleh yang bisa mereka bawa pulang. Menurutnya, sekitar 80 persen wisatawan membelinya untuk koleksi pribadi dan 20 persen untuk dijual kembali.

Bagi pria yang masih mengenyam pendidikan kuliah ini, bisnis tanaman kaktus akan terus eksis namun bisa memberikan persaingan yang lebih besar bagi para pedangannya.

 “Potensi dari penjualan kaktus dan sukulen akan meningkat cuma ya persaingannya semakin banyak karena makin ke sini para petani sukulen dan kaktus itu makin banyak, jadi harga jualnya akan semakin turun karena udah banyak yang jualnya,” jelas Fajhar

Selain Fajhar, banyaknya wisatawan yang datang berburu kaktus dan sukulen ini dirasakan oleh Iko, adik dari pemilih kios tanaman Midi Plants. Ia mengatakan bahwa jenis tanaman yang banyak dibeli di kios kakaknya adalah kaktus dan sukulen.

“Paling kaktus sama sukulen sih kalau di sini. Yang laku paling yang jenis-jenis ini (kaktus dan sukulen) yang harganya lima ribuaan,” ujar Iko.

Iko yang bekerja di kios kakaknya tersebut menyebut bahwa pembelinya bisa berasal dari luar pulau Jawa. “Jakarta ada, Palembang juga ada,” jelasnya.

Berbeda dengan Fajhar dan Iko yang belum lama bercengkrama dengan dunia kaktus dan sukulen, Rusyana yang sudah melakoni usaha ini selama lebih dari 20 tahun pun sangat tahu rasa manis dari bisnis ini.

Selain wisatawan lokal, kios milik Rusyana kerap kedatangan tamu dari mancanegara.

“Dari luar pulau Jawa juga ada, kadang ada yang beli buat oleh-oleh ke luar negeri juga sih, suka ada dari Malaysia, Thailand,” terang Rusyana. [Cicin Yulianti]