REGOL, AYOBANDUNG.COM — Alun-alun biasa digunakan masyarakat sebagai tempat berkumpul dengan berbagai kepentingannya. 

Pun, keberadaan alun-alun senantiasa jadi satu kesatuan dengan masjid raya dan bangunan pemerintahan lainnya.

Masjid Raya Bandung tahun 1929. (Wikimedia Commons)

Pernyataan tersebut pernah diungkapkan N. Kartika, dosen Program Studi Sejarah Universitas Padjadjaran, pada tahun 2018 lalu.

Menurut catatan sejarah, lebih dari 50 tahun wilayah Priangan dan sebagian dari Jawa Barat, pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Salah satu jejak buktinya yaitu alun-alun, yang merupakan sisa pengaruh Mataram yang masih kuat

Masjid Raya Bandung, sekitar tahun 1930-an. (Istimewa)

Dulu Alun-alun masih berbentuk sederhana, bentuknya tanah lapang. Seperti alun-alun di banyak kota, bagian tengah alun-alun Bandung ditanami sepasang pohon beringin. Bangunan yang ada di dekat sana ada pendopo, masjid agung/raya, dan sebagainya,” jelas Kartika, pada tahun 2018, kepada Ayobandung.com.

Pohon beringin yang berada di Alun-Alun Bandung, pada masa lampau, juga lazim dijadikan orang untuk tempat berteduh. Tetapi, pada masa pendudukan Jepang, pohon beringin tersebut tumbang. 

Tumbangnya pohon itu sekaligus jadi tanda kejatuhan Belanda pada saat masa penjajahan.

Masjid Raya Bandung, Bagian Tak Terpisahkan dari Alun-alun

Masjid Raya Bandung, dengan Alun-Alun Kota Bandung yang masih dihiasi rumput alami. (Wikimedia Commons)

Lahirnya Kota Bandung tak lepas dengan berkembangnya agama Islam. Hal itu terbukti dengan dibangunnya Masjid Raya Bandung bersamaan dengan kepindahan pusat Kota Bandung dari Krapyak (di Bandung Selatan) ke pusat kota saat ini.

Mengutip siaran pers Humas Kota Bandung yang diterimaAyobandung.com, ada dua versi yang membahas tahun berdirinya masjid tersebut, yakni pada 1810 atau 1812. Yang jelas, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Kota Bandung.

Versi 1812 menyebutkan bahwa masjid ini dibangun bersamaan dengan pemindahan pusat Kota Bandung dari Krapyak (di Bandung Selatan) ke pusat kota yang saat ini ada di kawasan Alun-alun-Asia Afrika-Braga.

Masjid Raya Bandung tahun 2008. (Wikimedia Commons)

Sejumlah sumber menyebutkan, pada masa awal pembangunannya, Masjid Agung memiliki corak arsitektur khas Sunda. Bangunannya pun terbilang sederhana, terbuat dari anyaman bambu beratap rumbia.

Atap rumbia tersebut tersusun dari tiga buah atap yang meruncing di bagian puncaknya. Puncak atap yang runcing tersebut sekaligus juga menjadikan Masjid Agung memiliki julukan "Bale Nyuncung" di kalangan warga. Nyuncung dalam bahasa Sunda memiliki arti lancip.

Meski dibangun dengan desain dan bahan-bahan bangunan yang sederhana, kesan hegar, luas dan asri tetap terasa dalam keseluruhan bangunan masjid. 

Sebelum seperti saat kini, masjid dilengkapi dengan sebuah kolam besar yang difungsikan sebagai tempat berwudu. Kolam tersebut juga konon pernah digunakan sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran.

8 Kali Perombakan

Masjid Raya Bandung tahun 2014. (Wikimedia Commons)

Sejak awal didirikan, masjid terletak berhadap-hadapan dengan Bale Bandoeng atau Pendopo Kota Bandung. Beberapa pihak menyebut masjid telah mengalami 8 kali perombakan. 

Tiga perombakan terjadi di abad ke-19, sementara lima perombakan dilaksanakan di abad ke-20. Dinding bilik bambu pun diganti menjadi kayu pada 1826. 

Pada tahun 2000-an, renovasi besar-besaran dilakukan oleh Gubernur Jabar saat itu, H.R. Nuriana. Atap masjid yang berbentuk joglo bertingkat diubah menjadi kubah besar seperti yang terlihat hingga saat ini. Bentuk limas bersalin menjadi kubah setengah bola dengan diameter sepanjang 30 meter.

Masjid Raya Bandung tahun 2019. (Wikimedia Commons)

Tak hanya itu, masjid juga dilengkapi dengan dua menara yang dapat didaki oleh para pengunjung. Sejak renovasi diresmikan pada 4 Juni 2003, nama "Masjid Agung" pun kemudian diubah menjadi "Masjid Raya Bandung".

Status Masjid Agung Kota Bandung kini disandang oleh Masjid Al Ukhuwah di Jalan Wastukancana. [*]