SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Jalan Braga memang tidak terlalu panjang secara fisik. Tetapi, ditilik dari kandungan sejarahnya, jalan terkenal di Kota Bandung ini punya deskripsi yang sama sekali tidak pendek.

Sejak era kolonial Belanda, Jalan Braga sudah jadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bandung. Ini pernah menjadi jalur lalu lintas warga dalam mengangkut berbagai hasil bumi, sampai kemudian pada masa modern jadi destinasi wisata.

Jalan Braga, tahun 1920-an. (Wikimedia Commons (CC))

Banyak bangunan bersejarah di kiri-kanan Jalan Braga yang lebih dikenal sebagai "Herritage Kota Bandung", dengan konsep arsitektur bergaya Eropa saat itu.

Dahulu, Jalan Braga kesohor sunyi karena tidak luas; dan sempat disebut sebagai "Jalan Culik" dan "Jalan Pedati". Tetapi sejak datangnya para pebisnis dari Belanda, barulah kawasan ini berubah menjadi ramai.

Jalan Braga antara tahun 1935 sampai 1938. (Wikimedia Commons (CC))

Toko dan Bar dibangun di Kawasan Braga, serta berdirinya butik yang berkiblat pada fesyen di Paris, sehingga Kota Bandung dijuluki Paris van Java pada tahun 1920-an.

Saking terkenalnya kawasan ini, banyak turis dan bangsawan yang berdatangan untuk menikmati Braga saat itu. Untuk datang ke Gedung Societeit Concordia atau sekarang disebut Gedung Merdeka; dan Hotel Savoy Homann menjadi tempat berkumpul mereka.

Nama Jalan Braga Berubah-ubah

Jalan Braga tahun 1938. (Wikimedia Commons (CC))

Sebelum menjadi jalan yang kiri-kanannya dihuni oleh toko dan kafe, pada 1800-an, jalan tersebut masih merupakan jalan setapak yang menyusuri tepi aliran sungai hingga ke hulu Sungai Cikapundung.

Berdasarkan keterangan penulis Sudarsono Katam, dalam

Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950
, jalan yang masih berupa jalan setapak tersebut biasa dilalui orang-orang dengan kendaraan angkut berupa kuda.

Jalan Braga tahun 1947. (Wikimedia Commons (CC))

Jalan itu menghubungkan daerah-daerah yang sekarang disebut Dayeuhkolot (dahulu Krapyak), Alun-alun, Merdeka, Balubur, Coblong, Dago, Bumiwangi, dan Maribaya, dengan jalan tradisional yang telah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran Sumedang Larang dan Wanayasa. Dengan begitu, ruas jalan tersebut sempat dinamai "Jalan Wanayasa".

Pada era kolonial Belanda, ia juga kerap menjadi jalan lalu lintas warga dan pengangkut hasil bumi, salah satunya kopi. Kopi diangkut dari Gudang Kopi, yang sekarang menjadi Taman Balai Kota Bandung, menuju Jalan Raya Pos (Grote Postweg).

Jalan Braga tahun 1950. (Wikimedia Commons (CC))

Karena sering dilalui pedati, ruas jalan itu juga pernah dinamai "Jalan Pedati" atau

Karrenweg
. Meski demikian, perubahan nama
Karrenweg
menjadi
Bragaweg
(Jalan Braga) masih simpang siur sampai sekarang.

Menurut M.A. Salamoen dalam bukunya Baruang Kanu Ngora, "Braga" diambil dari kata berbahasa Sunda, kata Baraga yang artinya "jalan di tengah persawahan yang menyusuri sungai". Kawasan di timur dan barat jalan itu menurutnya dahulu adalah areal pesawahan.

Jalan Braga, tanpa keterangan tahun pasti. Kemungkinan semasa Orde Lama. (Arsip Jawa Barat)

Sementara itu, Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe menafsirkan kata "Braga" tersebut sebagai bagian dari katangabaraga, yang berarti "menapaki jalan setapak".

Dia juga memiliki padangan lain bahwa kata "braga" bisa jadi diambil dari ngabar raga atau "memamerkan tubuh". Pasalnya, dahulu (hingga saat ini), ruas jalan ini cukup dsibukkan oleh lalu-lalang warga yang seolah-olah berjalan "memamerkan" fesyen yang menempel di tubuhnya.

Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat (9 Oktober 2020). Mekarnya bunga tabebuya berwarna kuning menambah keindahan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Kota Bandung. (Irfan Al-Faritsi)

Soedarsono Katam memiliki pendapat lain dalam hal tersebut. Munculnya grup musik Toneel Vereniging Braga, yang didirikan pada Juni 1882 oleh Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff di Karrenweg, disebut-sebut menjadi salah satu andil meluasnya julukan Braga bagi jalan itu. 

"Mungkin perubahan nama Karrenweg menjadi Bragaweg diawali melalui bahasa lisan masyarakat Bandung pengagum ketenaran Toneel Braga. Mereka menyebut Karrenweg dengan Bragaweg dalam pembicaraan sehari-hari, hingga ditetapkan sebagai nama resmi oleh Gemnetee Bandoeng," tulisnya. [*]