LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Tidak banyak informasi gamblang yang dapat digali seputar perjalanan Bisbol di Bandung, terutama yang berkisar pada tahun 1950-an. Mengoreknya pun masih relatif sulit.

Padahal, pada era itu, dari kabar seorang teman di Jakarta, kabarnya Bandung punya beberapa klub bisbol tersohor. Viper dan Tay Shieh, misalnya, atau Rebocco yang fotonya terdokumentasi dalam majalah Star Weekly edisi 31 Oktober 1958.

Dari pemaparan seorang blogger, dengan nama daring baguscorp62, ketiga klub bisbol itu kemudian meleburkan dan membentuk klub baru di Bandung: Red Fox.

"Jadi, cerita dibentuknya Red Fox berawal setelah digelarnya PON Makassar 1957. Waktu itu sebenernya udah ada sejumlah klub kayak kayak Viper, Rebocco dan Tay Shieh di Bandung," tulis baguscorp62.

"Tapi pemain dari tim Jawa Barat kayak Sunarjo Danumihardja, Safei Prawiradilaga, Harito, dan Alm. Thamrin ngerasa mereka harus ngebentuk tim bisbol baru untuk ngeramein kompetisi bisbol Indonesia. Akhirnya pada 17 Oktober 1957 diputusin untuk ngebentuk klub bernama Red Fox yang terinspirasi dari klub Major League Bisbol, Boston Red Sox," ungkapnya.

Meskipun tidak dijelaskan detail siapa saja susunan pemainnya; dan bagaimana nasib Viper, Rebocco dan, Tay Shieh kemudian. Tetapi, Jika melihat Star Weekly edisi 31 Oktober 1958, yang memuat foto lima anggota tim Rebocco (salah satunya sang kapten Ronald Kastaje), tampaknya klub ini masih aktif setelah pembentukan Red Fox Bandung.

Selain itu, di akun Instagram Red Fox pun memang dipajang kentara tulisan, "Baseball & Softball Club Since 1957."

Sebuah penegasan Red Fox sebagai salah satu klub bisbol tertua di Bandung.

Pun, dalam unggahan Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia (Perbasasi) Kota Bandung, tertera sebuah narasi:

"Red Fox merupakan salah satu anggota Klub di Pengcab Perbasasi Kota Bandung , Red Fox sendiri berdiri pada tahun 1957 dan merupakan Tim tertua di Kota Bandung bahkan di Indonesia," tertera dalam posting-an akun Facebook Perbasasi Bandung.

Sejarah Besar yang Tersisihkan

Amat disayangkan, tentu saja, Bandung yang punya klub bisbol dengan sejarah sekuat itu, namun gaungnya masih kalah jauh ketimbang olahraga lainnya.

Ya, bisa saja orang berdalih bahwa popularitas bisbol kalah jauh ketimbang sepak bola, badminton, atau basket. Namun, tak berarti boleh disisihkan begitu saja.

Di samping kultur sepak bola yang sudah mendarah daging, Bandung punya klub bisbol legendaris yang punya pengaruh besar.

Hampir setiap tahun Red Fox Cup terselenggara; dan beberapa sekolah di Bandung pun punya ekstrakulikuler sofbol yang berada di bawah bimbingan Red Fox Bandung. Konsistensi ini jadi bukti Red Fox layak lebih dihargai sebagai pelestari minat bisbol di Indonesia.

Sayang sekali, informasi signifikan soal sejarah bisbol di Bandung masih relatif sulit untuk dikorek, dengan hanya segelintir situs berita atau blog yang membahasnya secara rinci.

Di akun Instagram Red Fox Bandung memang tersedia alamat situs resmi mereka, namun, saat diklik sudah tak berjalan lagi. Begitu pula saat Ayobandung.com mencoba menghubungi admin medsos mereka, sejauh ini belum ada tanggapan. 

Mungkin di lain waktu, ada kesempatan untuk mencari informasi lebih jauh soal sejarah besar bisbol di Bandung. 

Pencarian itu untuk memberitahukan secara lantang kepada khalayak, bahwa di Bandung urat nadi bisbol masih aktif hingga sekarang, dan mereka punya cerita yang amat menarik untuk disimak. [*]