JAKARTA, AYOBANDUNG.COM — Fenomena alam yang berujung pada bencana memberikan pembelajaran kepada masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu.

Potensi bencana yang terus muncul pun mendorong BNPB untuk mengajak semua pihak dalam membangun literasi kebencanaan untuk mewujdukan masyarakat tangguh.  

Pembangunan literasi kebencanaan membutuhkan sinergi dan kerja sama pentaheliks, yaitu pelibatan pemerintah, pakar atau akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media massa.

Jadi, untuk mewujudkan tujuan itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan inisiasi kerja sama antar institusi pemerintah Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dalam pengembangan literasi sejarah kebencanaan sebagai bagian dari edukasi masyarakat. 

Melihat informasi sejarah bencana di suatu wilayah, BNPB mengharapkan masyarakat dapat mempelajari potensi maupun karakteristik bahaya di wilayah. Kemudian, pengetahuan yang berbasis informasi sejarah ini dapat menjadi sumber informasi bagi anggota keluarga. BNPB juga mengharapkan dukungan berbagai pihak (pentaheliks) dalam membangun resiliensi masyarakat.

Direktur Sistem Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr. Udrekh menyampaikan, sebenarnya di Indonesia banyak aset kebencanaan yang tersebar di beberapa daerah.

“Namun pengelolaan dan pengumpulan aset-aset ini yang belum difasilitasi agar masyarakat dapat mengakses dengan mudah pembelajaran dari kebencanaan ini,” tambah Udrekh saat berkunjung di Perpusnas, Jakarta.

Ia menambahkan bahwa pembelajaran dari negara-negara lain, seperti Jepang dan Belanda, justru memiliki arsip kebencanaan yang lebih lengkap daripada di Indonesia

“Maka dari itu, perlu dijalin kerja sama yang lebih kuat dengan Perpusnas dan ANRI untuk mengelola arsip-arsip kebencanaan yang tersebar di seluruh Indonesia agar masyarakat bisa mengakses pembelajaran-pembelajaran yang ada,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja sama dan Hubungan Masyarakat Perpusnas Sri Marganingsih menyambut baik gagasan literasi kebencanaan dari BNPB. Di sisi lain, ia menyampaikan beberapa tugas dari Perpusnas, yaitu membina perpustakaan yang ada di masing-masing kementerian lembaga, sedangkan untuk program unggulan yang sedang dijalankan oleh Perpusnas adalah membuat Pocadi (Pojok Baca Digital). 

Pocadi ini merupakan bantuan di provinsi dan kabupaten serta kota dimana masyarakat bisa mengakses bacaan digital. Bacaan yang tersedia di Perpusnas ini dapat diakses melalui computer yang sudah disediakan. 

“Melalui program Perpusnas, Pocadi, upaya literasi bencana ini juga dapat langsung menyentuh masyarakat,” harap Udrekh.

Marganingsih menyambut baik usulan kerja sama antara pihaknya dan BNPB. Ia merekomendasikan untuk dapat segera dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan penyusuan PKS (Perjanjian Kerja sama) antara kedua belah pihak. Di samping itu, kerja sama ini memungkinkan integrasi data antara sistem yang ada di Perpusnas dengan portal literasi sejarah kebencanaan BNPB. 

Melalui kolaborasi, Udrekh menyampaikan bahwa literasi kebencanaan ini dapat mempercepat langkah penyebaran pengetahuan sehingga masyarakat semakin kuat dalam mendukung kebijakan dan strategi penanggulangan bencana. Pada akhirnya, literasi kebencanaan dapat menciptakan masyarakat yang rajin membaca, terbangun budaya literasinya serta tangguh menghadapi bencana.

Saat berkunjung ke Perpusnas, Udrekh mengenalkan portal literasi sejarah kebencanaan yang saat ini masih terus dikembangkan. Portal ini adalah portal yang sudah dibuat oleh BNPB untuk mewadahi arsip-arsip literatur kebencanaan yang ada di seluruh Indonesia dalam bentuk digital. [*]