LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Bandara Husein Sastranegara menemukan sejumlah hasil tes Antigen Covid-19 yang mencurigakan atau tak valid.

Koordinator Pos Bandara Husein Sastranegara, dr Elly Farida mengungkapkan sejumlah kerancuan dari temuannya itu.

"Sejauh ini kami tidak langsung mengatakan itu palsu ya, tapi memang tidak valid," katanya kepada Ayobandung.com di Bandara Husein Sastranegara, Selasa, 4 April 2021.

"Tak ada tanda tangan dokter penanggung jawab, alamat kliniknya, stampel dari kliniknya," imbuhnya.

Elly mengatakan, ketika mendapatkan kasus seperti itu, pihaknya langsung menghubungi laboratorium penanggungjawabanya. Pihaknya akan meminta pihak laboratorium untuk mengirim ulang hasil tes tersebut sesuai dengan format yang sudah ia tetapkan.

Hal tersebut ia lakukan untuk memastikan apakah calon penumpang itu benar-benar melakukan tes Antigen atau tidak.

"Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saja," katanya.

Atas penemuannya itu, sejumlah calon penumpang merasa dipersulit untuk melakukan perjalanan. Menanggapi penumpang seperti itu, pihaknya mengaku sengaja mempersulit syarat perjalanan agar tidak mudah untuk diberangkatkan.

Setalah ditelusuri, Elly menyebut salah satu penyebab hasil tes antigen ini tak valid adalah adanya tren tes antigen mobile, artinya memang tidak jelas alamatnya.

Elly menerangkan, sejumlah hasil tidak valid tersebut memang menyasar kepada orang-orang yang melakukan perjalanan.

Tak hanya itu, Elly juga mendapati satu hasil tes antigen dengan beda format meski dari laboratorium yang sama. Pihaknya telah menandai lab mana saja yang melakukan format tersebut dan langsung menghubungi dokter penangungjawabnya.

"Lab-nya ada yang dari Tasikmalaya, Ciamis, Kabupaten juga ada," katanya.

Tak Batal Berangkat, Tapi Tes Ulang

Di sisi lain, Executive General Manager (EGM) PT Angkasa Pura II Kantor Cabang Husein Sastranegara Bandung, Iwan Winaya Mahdar menyatakan, bila pihaknya menemukan kasus hasil tes antigen yang rancu atau tak valid, maka calon penumpang itu bisa tes ulang.

"Bukan berarti penumpang itu tidak boleh berangkat, ya. Kita langsung anjurkan untuk tes lagi, baik itu Rapid atau GeNose atau PCR sekalipun," ujarnya di tempat yang sama.

"Tesnya boleh di Bandara, boleh di luar Bandara," lanjutnya.

Ia mengatakan, sejauh ini kasus hasil tes antigen mencurigakan tersebut tidak sampai puluhan sampai-sampai calon penumpang harus tes ulang.

Terkait lalu lintas penerbangan di masa pandemi COVID-19, Iwan menyebut ada penurunan yang signifikan dari jumlah penumpang. Penurunan ini sampai 70 - 80 persen.

Pada 2019, jumlah penumpang sebanyak 2.292.000. Sedangkan pada saat tutup buku tahun 2020, kata Iwan, jumlah penumpang hanya 400.082 orang atau ada penurunan sampai 79 persen.

Ia pun memahami alasan penurunan jumlah penumpang karena kondisi yang masih dilanda COVID-19.

"Kalau pandemi itu, harus ada dokumen kesehatan yang mungkin nambah biaya, seperti antigen," jelasnya.

Tak hanya itu, ia juga tidak bisa memprediksi jumlah penumpang pada libur lebaran nanti.

"Kan mudik ini benar-benar ditiadakan ya, apalagi ada kebijakan Pemerintah yang melarang mudik mulai 6 - 17 Mei," tandasnya.