Menjelang lebaran biasanya warga perantauan sudah bersiap untuk pulang ke kampung halaman mereka. Meski istilah mudik tidak hanya dalam situasi lebaran, namun fenomena ini di Indonesia sudah menjadi tradisi kala lebaran tiba. Masyarakat yang merantau di luar kota kelahirannya, berduyun-duyun pulang ke kota masing-masing.

Entah kapan tepatnya istilah mudik mulai dikenal di masyarakat. Ada beberapa kalangan yang membedakan arti mudik dengan pulang kampung. Seperti DR. Devie Rahmawati, Dosen dan Peneliti Tetap Program Vokasi Humas Universitas Indonesia, ia menyebut bahwa secara praktik mudik menjadi dekat dengan tradisi para migran yang kembali ke kampung setahun sekali dan biasanya bertepatan dengan perayaan hari keagamaan seperti Lebaran. Sedangkan pulang kampung dapat dilakukan tidak hanya setahun sekali.

Nama Maman Mahayana ia sebut sebagai orang yang menemukan istilah mudik yang ia amati dari kamus-kamus bahasa yang terbit di Indonesia. Sebelum tahun 70-an, mudik belum diartikan sebagai pulang kampung. Mudik diartikan “berlayar ke udik” atau “pergi ke hulu sungai”. Barulah pada kamus Bahasa Indonesia yang terbit pada tahun 1976, mudik yang bermakna pulang kampung muncul.

Gelombang arus mudik ini menurut Devie, disebabkan sebagai dampak pembangunan Indonesia yang terpusat di Jakarta. Banyak warga yang berasal dari berbagai daerah mengadu nasib ke Jakarta. Mereka berdatangan ke ibu kota untuk mencari pekerjaan. Sampai sekarang, gelombang urbanisasi ini tiada henti dirasakan. Sehingga dari urbanisasi ini kemudian lahir tradisi mudik.

Alhasil, berpuluh tahun warga migran semakin banyak. Bukan saja menjadi fenomena penduduk Jakarta, melainkan sudah menjadi fenomena di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kebijakan pemerintah pada era presiden Soeharto dengan program transmigrasinya pun menambah jejak alasan makin bertambahnya penduduk migran. Akhirnya terciptalah tradisi dalam setahun sekali para penduduk pulang ke desa, tradisi ini kemudian dikenal sebagai mudik.

Penduduk musiman pun dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan. Menurut data statistik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat jumlah kedatangan penduduk dari luar DKI Jakarta selama bulan Januari hingga Oktober 2020 yang tercatat sebanyak 103.146 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 43% setiap bulannya.

Adapun Bandung, sebagai salah satu kota besar di Provinsi Jawa Barat mencatat pada tahun 2019 terdapat 46,997 orang pendatang. Rata-rata kedatangan penduduk sekitar 8,33% per bulannya.

Menurut sumber data lain dari Dispendukcapil Surabaya, penduduk asli atau penduduk permanen Surabaya sejumlah 3,2 juta jiwa. Namun, warga yang tinggal di Surabaya dipastikan lebih dari itu. Hingga bulan Oktober 2019, sudah tercatat sebanyak 1.232 jiwa yang menjadi warga nonpermanen di Surabaya.

Upaya pemerintah yang melakukan desentralisasi sudah dilakukan. Kebijakan desentralisasi telah bergulir sejak tahun 1999 dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, dan tahun 2001 Negara Republik Indonesia telah memasuki era Otonomi Daerah. Namun realisasinya hingga kini masih membutuhkan beberapa penyempurnaan. Desentralisasi sebagai sebuah model penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang kini masih terus berproses mempunyai berbagai macam model atau jenis. Desentralisasi, Otonomi Daerah, dan Pembangunan merupakan permasalahan yang erat kaitannya satu sama lain yang kini tengah diimplementasikan di seluruh penjuru tanah air. Desentralisasi itu akhirnya membuahkan pembangunan di daerah-daerah. Namun masih berproses terus. Sampai saat ini desentralisasi dapat dikatakan hanya menjadi sentralisasi di tingkat provinsi. Ibu kota provinsi menjadi tujuan urbanisasi berikutnya. Seperti data yang diperoleh dari dua kota besar lainnya, yakni Bandung dan Surabaya. Meski laju urbanisasi ke Jakarta relatif tetap berada dalam angka yang tinggi.

Dari uraian di atas, dapat kita tarik benang merah mengenai kemunculan tradisi mudik. Dalam tradisi masyarakat, kebiasaan mudik asalnya merupakan sebuah kegiatan yang menandai seseorang perantau kembali ke kampung halaman. Ketika persebaran penduduk sejak dulu kala adanya urbanisasi hingga transmigrasi, membawa dampak pada statistik kependudukan. Seiring berjalannya waktu, warga urban maupun transmigran semakin banyak. Mereka beranak-pinak. Dalam kondisi inilah kemudian akhirnya mengawali tradisi mudik. Fenomena ini terus kita lihat sampai sekarang. Warga perantau beserta anak-cucu mereka seperti sudah wajib mudik, untuk pulang ke kampung halaman atau sekadar silaturahmi dengan sanak saudara di kampung asal mereka.  Walaupun mereka harus “bermacet ria”, ongkos mahal, harga tiket melambung, dan tidak sedikit biaya yang harus ditabung, serta tidak jarang memakan korban jiwa pada saat berkendara ketika arus mudik.

Indonesia sampai hari ini masih menyematkan mudik sebagai tradisi yang hangat diperbincangkan. Tradisi ini membawa berbagai dampak dalam kehidupan. Beberapa aspek pembangunan, meski tidak secara langsung sebagai dampak dari tradisi mudiknya para migran, kiranya dapat kita temukan. Sebagai contoh adalah perbaikan jalur transportasi yang terus dilakukan. Pengadaan jalan-jalan baru sebagai alternatif, jalan tol, pengaturan trayek dan rute angkutan, pembukaan lapangan kerja, dan lain sebagainya. Serangkaian aturan pun diterbitkan pemerintah. Baik aturan kependudukan, ketenagakerjaan, lalu lintas, pembagian tugas aparat keamanan, juga yang terbaru saat ini adanya peraturan mudik yang secara ketat dikeluarkan dalam kondisi pandemi Covid-19 untuk menghindari dampak wabah corona semakin membludak.

Kita sudah banyak mengalami fenomena mudik dari tahun ke tahun. Fenomena ini selain menimbulkan dampak-dampak seperti disebut di atas yang membawa imbas positif terhadap pembangunan. Tidak hanya itu, ekses negatif dan risiko lain muncul sebab adanya ketidakmerataan sebaran penduduk di kota-kota besar. Tidak terlepas pula permasalahan ekonomi dan kesejahteraan penduduk yang timbul. Karena, dari tahun ke tahun kita mencatat selalu saja ada perantau baru yang mengadu nasib ke ibu kota. Mereka yang bernasib baik, inilah yang memicu warga lain ikut serta. Maka, tidaklah heran tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi, meski kini pemerintah melarang mudik. Walau tidak semua perantau bernasib baik, namun tetap saja menarik orang untuk berdatangan mencari nasibnya. Mereka akan memilih tetap tinggal atau mudik kembali ke kampung halaman. [*]