Tahun ini genap sudah tujuh tahun bagi penulis menjadi penggemar hiburan Korea khususnya

Korean Pop
(Kpop). Aliran musik dari negara Korea Selatan yang kini bukan lagi hal asing. Mulai naik sejak kemunculan lagu Sorry-sorry dari Super Junior dan Gee oleh SNSD rekan satu agensi mereka. Kpop mulanya masih menjadi sesuatu yang unik, memperlihatkan sekelompok anak muda yang menari dengan baik di tambah vokal yang indah. Terlebih lagi secara fisik mereka dinilai tampan dan cantik. Paket sempurna idola para remaja.

Jika bicara soalan satu ini, para

kpopers
pasti paham betul hal wajib dari tiap grup yang lahir. Merchandise official, khususnya album lagu. Tak sekadar kepingan DVD yang memuat kumpulan lagu, melainkan ada
photobook
dan perintilan lainnya sebagai satu paket kekhasan artis kpop.

Di tahun 2014 lalu, hal paling diincar para kpopers mungkin hanya sebuah album. Namun pergeseran masa yang panjang, telah mengubah budaya hiburan fans bintang musik Korea Selatan ini. Sebab

photocard
yang dulu hanya jadi stufftambahan dalam paket album, telah berubah menjadi barang koleksi tak jarang bahkan menjadi instrumen investasi. Loh, kok bisa?

Mulanya Kertas Ganteng

Ketertarikan tiap penggemar barangkali tetap berbeda-beda. Selain dilihat dari kemampuan kantong masing-masing, berat bagi Nisa mengeluarkan uang lebih hanya untuk selembar kertas. Memiliki album masih jauh lebih masuk akal  baginya dan membiarkan uangnya yang lain untuk koleksi novelnya.

Namun berbeda bagi Rani, veteran kpoper yang sejak 2012 mencurahkan kecintaannya pada grup-grup tersebut dengan membeli berbagai barang resminya. Sempat hiatus, tak membuat mahasiswa Hukum Univesitas Pembangunan Negara Veteran Jakarta tersebut ketinggalan tren kpop masa kini. Mengawali menjadi EXO-L (penggemar EXO), kini Rani memutuskan untuk fokus pada grup NCT dan Treasure. Dua grup yang jauh lebih muda dan baru debut dua hingga lima tahun terakhir.

Sudah kurang lebih 83 lembar

photocard
dimilikinya meskipun baru memulainya sejak awal tahun 2021 ini, yang lima puluh lembar di antaranya adalah koleksi photocard biasnya, Jaehyuk Treasure.

“Termahal waktu itu pernah sekitar 450 ribu,” pungkas Rani lewat kolom chat.

Jika ditanya alasan mau-maunya menghamburkan uang ke benda seperti itu, mungkin sama halnya seorang wibudengan segala obsesinya kepada action figuredan cosplay.Maka kamipara kpopers memiliki photocard. Berisikan wajah ganteng para bujang ataupun gadis-gadis cantik.

Photocard official
yang tak jarang diproduksi terbatas dalam album maupun season greetings menjadikan tiap gambarnya yang seringkali unik secara kreatif diberi nama oleh kalangan fandom (kelompok penggemar) tiap grup idola. Contohnya saja
photocard
“Mama Mertua” keluaran grup Super Junior yang baru rilis bulan Maret lalu. Uniknya, foto tersebut tak hanya berisi wajah Donghae Super Junior selaku member yang dimaksud, namun bersama ibunya yang membuatnya jadi incaran bahkan di luar kalangan ELF (penggemar Super Junior).

Photocard yang hanya di dapat dari album tersebut nantinya akan dijual terpisah dan memiliki harga yang jauh lebih tinggi dilihat dari tingkat minat dan langkanya. Untuk beberapa kasus, bahkan tak hanya dijual dengan harga tertentu sesuai pasar. Semakin langka suatu photocard, akan menimbulkan transaksi tawar-menawar tak hanya di satu negara, namun satu fandom yang tersebar secara internasional.

BiddingSampai Dapat

Suatu waktu, di beranda twitter penulis pernah lewat thread yang berisi aksi tawar-menawar selembar foto Jisung NCT. Angka tertinggi terhenti pada nominal tujuh juta rupiah. Sebuah angka yang besar nyaris tak masuk akal hanya demi selembar foto seukur kartu atm. Terlebih dalam akal penulis yang tidak ada minat sedikitpun menjadi kolektor kertas ganteng sejatuh cintanya pada Yesung Super Junior.

Namun bagi Rani, sekalipun gagal mendapatkan Jaehyuk impiannya, ia mengaku pernah memberi penawaran hingga angka dua juta. Photocard Treasure edisi 100 hari debut tersebut berhenti di angka tujuh juta rupiah.

“Kalau lewat sepuluh juta seringnya udah gak serius sih. Lagi siapa juga mau ngeluarin segitunya buat satu lembar foto doang,” celoteh Rani saat ditanya pernahkah mendapat yang lebih tinggi lagi.

BiddingResmi Situs Naver

Tapi tau gak sih, khususnya kamu para Kpopers. Sekalipun aksi tawar menawar di satu fandom sudah lazim dilakukan, khususnya dalam mendapatkan photocard. Aksi ‘lelang’ juga pernah dilakukan oleh Naver, sebuah portal website di Korea Selatan selayaknya Google. Website serba ada tersebut juga ikut serta dalam penjualan album Super Junior The Renaissance Maret lalu.

Merilis album dengan konsep 9 versi sesuai jumlah member promosi, SM Entertainment sebagai agensi sempat membuat kesal penggemar karena mereka tak memberi hak bagi penggemar untuk memilih album edisi siapa yang ingin dimilikinya. Hal ini kemudian seolah dimanfaatkan Naver di minggu pertama pre-order. Harga satu album yang senilai 21 ribu won atau sekitar 250 ribu, akan diberi opsi pilihan bila pembeli mau menambah kocek sebesar seribu won.

Saat itu hanya dalam enam menit, album versi Kyuhyun langsung habis seketika. Bagai tak kehilangan akal untuk mengambil kesempatan, Naver kemudian melakukan restock pre-order dan menaikan nominal harga edisi Kyuhyun tersebut hingga berakhir di angka 15 ribu won. Total nyaris 500 ribu uang yang harus dikeluarkan penggemar untuk memiliki album member termuda Super Junior tersebut.

Baik-Buruk Hobi Jadi Ladang Investasi

Dikutip dari laman salah satu media nasional, pakar finansial Tejasari pernah menjelaskan baik dan buruknya berinvestasi yang bermula dari hobi. Generasi muda zaman sekarang berhasil membuat investasi semakin terdiversifikasi, dari sneaker, action figure, hingga

photocard
.

Sebenarnya hal ini sah-sah saja, karena kitamemiliki suatu komunitas yang membuat perputaran instrumen investasi terus berputar. Terlebih besarnya industri hobi tersebut dan terus bertambahnya anggota komunitas.

Namun, jenis investasi ini tetap tak dapat diandalkan menjadi dana darurat sebab tak dapat diuangkan secara cepat. Buruknya bukannya menambah pendapatan ketika situasi genting, demi segera mendapat uang alhasil kita bisa saja banting harga.

“Masalahnya, kalau darurat harus perlu segera,” ucap Tejasari.

Hal ini yang pernah dialami Rani ketika memutuskan menjual beberapa albumnya. Gadis tersebut pernah melepas album Seventeen di harga 215 ribu setelah sebelumnya membeli dengan nominal 150 ribu. Sementara, akibat adanya kecacatan pada album iKon yang mulanya seharga 300 ribu, ia harus rela melepasnya kurang dari itu.

“Yaudahlah, yang penting bisa buat beli album yang lain lagi,” pungkas Ran mengakhiri perbincangan.