LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Sejak tahun 1960-an, Indonesia mulai berusaha meningkatkan kualitas sekaligus popularitas olahraga tenis.

Meski menghadapi krisis dana dan terhambat masalah infrastruktur, tujuan terhadap olahraga ini tak goyah sedikit pun.

Jadi, untuk merealisasikan impian itu, Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI), dengan semboyan yang membara "Pantang Surut", mengikutsertakan Indonesia di Piala Davis (Davis Cup) 1961.

"Ini merupakan debut perdana Indonesia di Piala Davis bersama dengan Maroko dan Ekuador," ungkap Dimas Wahyu Indrajaya, sejarawan muda lulusan Universitas Padjadjaran.

Saat itu Indonesia menurunkan 4 petenis andalannya, yakni Tan Liep Tjiauw, Itjas Sumarna, Sugiarto, dan Sie Kong Loen. 

Sayangnya Tan Liep Tjiauw, dkk. belum beruntung, karena dikalahkan India 1-4 di babak perempat final Zona Asia yang digelar di Bandung, Jawa Barat, pada 26-28 Maret 1961.

Dari lima match yang dimainkan, hanya Tan Liep Tjiauw yang sukses memberi perlawanan. Ia berhasil mengalahkan Jaidip Mukerjea, petenis muda yang usianya terpaut 19 tahun dengannya.

Little Tan

Sebelum Piala Davis 1961 itu, Tan Liep Tjiauw ini sudah cukup dikenal di Indonesia pada era 50-an. Posturnya pendek dan punya julukan "Little Tan". 

"Nama Tan Liep Tjiauw juga tersohor, karena menjadi orang Indonesia pertama yang menjajal sengitnya Wimbledon pada 1953," ungkap Dimas.

Kiprah Tan Liep Tjiauw di jagad tenis nasional dan internasional pun terbilang awet. Di sejumlah ajang ia sukses menyabet prestasi. Pada 1956 contohnya, pria peranakan Tionghoa kelahiran Kediri ini memenangi kelas tunggal putra dalam ajang Open Malaya Championship.

"Liep Tjiauw sekarang bukanlah Liep Tjiauw pada beberapa tahun yang lalu, sekalipun kini terdapat di mana juara kita itu masih memperlihatkan glimpses daripada kecemerlangannya dahulu," tulis Dimas, mengutip dari Star Weekly, di akun Instagram Memori Olahraga.

Terutama saat babak perempat final Zona Asia Piala Davis, kala mengalahkan Jaidip Mukerjea, aksi Tan menarik perhatian tokoh militer Indonesia A.H. Nasution.

Kehadiran Nasution, dipaparkan Dimas, di bangku penonton dibilang wajar, karena ia, konon, berkawan baik dengan Tan Liep Tjiauw. Sayangnya, Nasution tidak dapat melihat aksi kawannya lebih jauh di Piala Davis, sebab kontingen tenis Indonesia gugur lebih awal di Bandung tahun 1961[*]