“Kalo nonton film terus skenarionya jelek, pemainnya jelek jangan salahin sutradara, pemain, atau penulis skenario, tapi ya salahin produsernya.”

Serangkaian kalimat tersebut tidak lain adalah hasil nasihat produser tersohor Indonesia, Mira Lesmana kepada Salman Aristo. Kemudian, seuntai kalimat itu juga yang selalu Aris, panggilan akrab Salman Aristo genggam di antara pikiran dan tangannya ketika memasuki ranah profesi produser perfilman Indonesia.

Perlu diketahui dunia film tidak hanya berkutat pada skenario, pemain, ataupun karakter. Jauh, dari itu semua ada yang memikul tanggung jawab dan visi besar sebuah karya, baik itu film ataupun series. Bahkan, sesuai dengan kutipan Mira Lesmana, film buruk itu terjadi karena produsernya. Sebab, pion utama dalam sebuah film ialah seorang produser.

Hal ini pun dapat dibuktikan dalam wahana penghargaan film, baik secara nasional maupun internasional.

“Padahal kita bertahun- tahun liatkalo di Oscar tentang film terbaik itu yang naik produser bukan sutradara. Jadi, kalo ditanya siapa yang punya film secara keseluruhan? Ya, itu adalah produser,” ujar sutradara, penulis skenario, dan produser film, Salman Aristo ketika ia gerah dengan masyarakat lima tahun ke belakang yang masih berpikir jika produser bukanlah

film maker.

Menyelam dalam buana perfilman Indonesia selama belasan tahun juga yang membuat Salman Aristo paham arti tanggung jawab dan apa yang diangkut di atas punggung seorang produser.

Tentang yang Dicari Seorang Produser

Pemenang skenario adaptasi terbaik Festival Film Indonesia 2016 tersebut juga menjelaskan bila sebuah film layar lebar atau series sekalipun, memiliki mata rantai bisnis yang sangat kuat, karena bicara soal film berarti berbicara mengenai pasar massal yang tentu saling mengikat antara bisnis dengan publik.

“Bicara tentang publik artinya apa yang mengikat penonton. Produser harus bisa menemukan tema. Skenarionya ini harus mempunyai tema, premis, karakter, plot yang kuat,” sambung Aris. Menurutnya juga, produser walaupun tidak bisa menulis, tetapi harus bisa membaca dan memahami skenario. Produser dituntut untuk tanggap dengan apa yang ia baca, apakah akan menghasilkan karya yang bagus atau malah menjatuhkan?

Kemudian, setelah produser bisa memahami tentang karakter tokoh dalam barisan kata tersebut dan ia sudah paham plotnya akan dibentuk seperti apa. Maka, ia harus tahu bagaimana alur cerita tersebut diceritakan, karena jalan ceritanya bisa mengenai suatu hal. Akan tetapi, jalan cerita tersebut bisa dijelaskan dengan berbagai macam gaya.

Dalam hal ini juga Aris menyebutkan mengapa seorang produser itu sah bila disalahkan ketika film garapannya buruk.

”Tapi kalo produsernya ngga tau tentang premis, karakter utamanya seperti apa, mungkin sampai ujung dia ngga bakal tau gimana caranya membawa film. Sampai pemasaran film pun dia ngga bakal ngerti. Ini kenapa produser itu

film maker
, bukan pendulang uang aja dan kenapa produser itu disalahkan saat filmnya jelek atau terjadi sesuatu sama filmnya.”

Namun, tentu tidak sampai di sana tanggung jawab produser tergerus. Setelah mengetahui bagaimana skenario itu diceritakan. Maka, poin utama yang harus diraba ialah siapa yang akan bercerita atau siapa saja yang nantinya ikut menceritakan.

Aris, yang di tahun 2010 berhasil memproduseri Jakarta Maghribini juga menambahkan ketika mencari talenta yang pas, ia lebih membutuhkan "Voice" bukan "Noise".

“Di Wahana Kreator kami tidak pernah peduli dengan jumlah followerspemain, karena itu ‘Noice’,” jelasnya.

Memang dikatakan jika produser ialah pion utamanya. Akan tetapi, produser juga manusia yang membutuhkan tumpuan dari banyak elemen, yang Aris sendiri sebut sebagai superteam bukan superman.Lantaran, tidak mungkin hal tersebut dikerjakan oleh satu orang. Bagi Aris, dikerjakan satu orang sama saja dengan pemaksaan dan berdasarkan pengalamannya, situasi tersebut lebih rentan menyebabkan chaos.

Produser dan Perjalanan Sebundel Skenario

Film tanpa sebuah skenario sama saja seperti mobil tanpa mesin. Sehingga bagi seorang nahkoda film atau produser, skenario adalah panduan dan fondasi untuk berkolaborasi. Kemudian, untuk melakukan kolaborasi tentu diperlukan tiga elemen utama yang akan menggarap skenario di dalam ruang development. Di antaranya ialah sutradara, penulis skenario, dan produser.

Fondasi, panduan, dan ruang kolaborasi adalah hasil tanggung jawab dan ciptaan tangan dingin seorang produser. Ketika dalam ruang visi, produser layak paham dengan konten konteks dan konsep.

Untuk menyederhanakan tiga kata tersebut, Aris mencoba menganalogikan, “Konten itu air, konteks adalah merk dari air tersebut, dan konsepnya ialah air mineral.”

Selain itu, Aris sebagai penulis skenario terpuji film bioskop untuk film Bumi Manusiajuga menggambarkan dalam penggarapan skenario ketika membuat daftar tanggal bukan hanya sekadar ”Oh, ini deadline tanggal sekian” melainkan harus ada pencapaian di setiap titik perjalanan skenario tersebut.

Guebakal dapat apa dari penulis skenario. Di sinopsis itu diharapkan apa? Di draftsatu itu harapannya apa?” Aris menyebut pemikiran tersebut sebagai milestone.Mengapa diibaratkan milestone? Sebab, produser patut menjadi kompas dalam skenario.

Lantas, untuk bisa menempuh hal di atas seorang produser harus bisa menciptakan proses developmentyang sehat. Sama seperti ketika tubuh yang kuat berasal dari jiwa yang sehat, maka produser harus bisa menciptakan ruang developmentyang aman dan nyaman.

“Di ruang ini (ruang development) orang akan mengeluarkan isi hatinya, pikirannya, pandangannya tanpa harus mengalami judgement,komen, atau apapun yang membuat dia tidak nyaman dan tidak aman. Its not about you, its all about story, dan pemikiran ini yang harus ditularkan dan ditanamkan ke diri kita sendiri,” tegas produser 5 Elangdan Garuda di Dadaku 2itu.

Mengutip Aris, hal terakhir yang menjadi beban dalam produksi skenario bagi seroang produser ialah menjadi seorang problem solver, produser dituntut memiliki mentalitas yang selalu mencari solusi. Alangkah lebih baik lagi jika bisa mengajak semua orang untuk menjadi problem solverdan produser harus bisa menularkan itu.

Terlepas dari pikulan yang tertera di atas, sosok produser adalah orang yang mengambil keputusan strategis. Seseorang dicap sebagai produser ketika ia melakukan sharingmengenai masalah yang dialami produksi filmnya dan mengambil keputusan di akhir untuk memilih lanjut atau manyimpan film tersebut dalam kotak. [*]