Film itu bisa segitu kuatnya ya kalo disampein dan ditonton sama orang yang tepat,” ucap Raihan Mauladi ketika diwawancarai melalui Line pada 30 Maret lalu. 

AYOBANDUNG.COM--Raihan adalah seorang mahasiswa TV dan Film (TVF) Fikom Unpad angkatan 2018. Saat ini, ia sedang menjabat menjadi ketua dari Cinematography Club (CC), salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di bawah naungan Fikom Unpad.

Raihan memiliki kedekatan yang tidak biasa dengan film. Ia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pembuat film. Hingga saat ini, ia mengaku sudah 8 kali terlibat dalam proses pembuatan film pendek. 

Sejak kecil, Raihan sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya yang bekerja di bidang produksi audio visual. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah alasan mengapa ia sangat ingin membuat film.

Keinginan itu muncul ketika ia sedang mengikuti exchange di India pada tahun 2016. Ia berkesempatan untuk menonton film The Darjeeling Limited karya Wes Anderson. Menurut Raihan, film tersebut berhasil “menyentuh” sisi paling sensitif dalam dirinya, yaitu kehidupan pribadinya.

Sejak saat itu, ia sangat ingin belajar membuat film agar dapat menyampaikan rasa dan cerita kepada banyak orang. 

Raihan mulai memproduksi film pada tahun 2018. Dari 8 film yang sudah ia produksi, ada satu film yang membuatnya sangat puas, yaitu Masih Ada Natal Malam Ini.

Film tersebut bercerita tentang seorang nenek yang sangat ingin mengetahui cara menggunakan smartphone. Ia meminta cucunya untuk mengajarinya, tetapi si cucu memiliki kesibukan sebagai jurnalis yang tidak bisa ditinggal. Film dengan durasi 9 menit 30 detik ini membuat Raihan dapat kembali mengenang masa kecilnya. 

“Aku mau mengenang masa-masa aku kecil belajar ngomong sama nenek/orang tua. Kalau udah bisa ngomong kan orang yang kita ajak ngomong pertama pasti orang tua kita juga,” ucapnya.

Melalui film Masih Ada Natal Malam Ini, Raihan sangat ingin menyampaikan pesan bahwa kita sebagai manusia tidak akan lepas dari proses belajar.

“Selama produksi film aku jadi belajar lebih banyak tentang manusia sih, namanya manusia kan semuanya berbeda-beda ya,” ujarnya.

Raihan mengaku sudah terbiasa menghadapi berbagai jenis manusia ketika sedang memproduksi film. Selain itu, ia juga menyadari bahwa setiap orang membawa pemahaman dan visi yang berbeda terhadap cerita yang akan difilmkan.

Raihan sebagai sutradara bertugas untuk memahami setiap visi dan menjadikannya sebagai satu visi agar film yang dihasilkan akan menjadi milik semua orang yang terlibat di dalamnya. 

Menurut Raihan, hal paling penting dalam membuat film bukanlah hasil akhirnya, tetapi perasaan kru dari film tersebut.

Ia akan mengutamakan produksi yang menyenangkan sehingga hasil yang diperoleh akan dapat dinikmati bersama-sama. Ia juga akan mengusahakan untuk menjaga mood dari kru walaupun tidak bisa dipungkiri selama proses produksi akan ada saja masalah yang terjadi. 

Selain perbedaan pendapat, masalah yang juga harus diselesaikan pada saat praproduksi adalah budget. Sebagai produksi dengan budget yang minim, Raihan mengaku harus sering berkompromi.

Ia harus memiliki berbagai cara agar keterbatasan-keterbatasan yang ada dapat diubah menjadi senjata untuk membuat film menjadi unik. Di sinilah ide kreatifnya dituntut untuk bekerja. 

“Justru seninya di situ, gimana caranya kita bisa mewujudkan si imajinasi itu ke dalam kemasan yang memungkinkan untuk dieksekusi,” jelasnya. Pada saat produksi, masalah yang tidak terduga juga sering muncul. Raihan menceritakan pengalamannya saat syuting. Saat itu ada penebangan pohon besar di depan lokasinya yang menyebabkan suasana menjadi tidak kondusif. Hal itu yang menyebabkan waktu syuting harus diundur.