AYOBANDUNG.COM--Banyak pembaca dan penulis yang kelewat genit yang ingin membahasaindonesiakan toponimi di Jawa Barat, tidak terkecuali yang terjadi di Kota Bandung. 

Sebagai contoh, masyarakat Sunda di Bandung menamai gedung yang sangat besar dengan puncaknya diberi bulatan-bulatan yang seperti sate yang ditusuk, maka disebutlah Gedongsate. 

Kepopuleran sebutan Gedongsate mengalahkan sebutan resmi saat itu. Kini, nama pemberian masyarakat Sunda itu diubah oleh warganya sendiri, alasannya takut orang lain tidak mengerti. Jadilah judul buku itu Gedung Sate. Plang nama resmi pun sama, Gedung Sate. 

Padahal aturan perundangan penamaan toponimi itu sudah jelas berpihak pada bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Itulah salah satu upaya nyata untuk terus menghidupkan bahasa ibu dan bahasa Indonesia. 

Demikian juga dengan toponimi Parapatanlima. Banyak yang menyalahkan, “Ngaco”, katanya, “masa parapatan ada lima”. Takut disebut ngaco, dan merasa yang membetulkan jalannya sejarah kota ini, banyak penulis yang mengubah toponimi Parapatanlima dengan sesuka hatinya menjadi Simpanglima, meniru yang “benar” di tempat lain.    

Untuk menelusuri riwayat pembuatan dan pemberian nama jalan, dapat ditelusuri dari peta zaman kolonial, yang dapat diakses secara gratis di situs Leiden University. Peta tahun 1825 memuat jalan-jalan utama dan gedung-gedung yang menonjol saat itu, seperti kediaman bupati di selatan alun alun. 

Di utara rumah bupati itu ada jalan raya pos yang dibuat atas perintah Daendels pada tahun 1810-1811, yang membentang barat timur. 14 tahun setelah jalan raya pos itu selesai dibangun di wilayah Priangan, belum banyak perubahan. Di ujung timur batas kota, belum ada jalan utama yang memotong Jalan Raya Pos.

Secara pasti kapan dibuat jalan-jalan yang memotong Jalan Raya Pos, sehingga terbentuknya perempatan, saya tidak mempunyai datanya. Tapi, pada Peta Topografi Lembar Bandoeng, yang direvisi tahun 1904, dan diterbitkan tahun 1905 di Batavia oleh Biro Topografi, sudah dipetakan adanya jalan-jalan yang sejajar dengan Jalan Raya Pos dan jalan yang memotong membentuk perempatan, seperti di timur alun alun di batas kota di Kacakacawetan.

Para peta tahun 1905 itu sudah ada jalan yang sejajar dengan Jalan Raya Pos (Jalan Asia Afrika). Catatan: nama-nama jalan disesuaikan dengan nama jalan yang berlaku saat ini. 

Di selatan Jalan Asia Afrika ada Jalan Lengkong Kecil, mulai dari Jalan Lengkong Besar sampai Jalan Karapitan (ruas utara), lalu berbelok lurus ke utara memotong Jalan Asia Afrika. Jalan dari selatan itu menerus ke utara, menjadi ujung sebelah timur Jalan Naripan. 

Jalan Naripan, jalan yang dibuat di utara dan sejajar dengan Jalan Asia Afrika. Jalan yang ke utara itu berakhir di belokan jalan menuju Jalan Veteran. Jalan ke arah selatan dari belokan Jalan Lengkong Kecil, belum dipetakan berupa jalan besar, kecuali jalan setapak yang biasa dipergunakan oleh masyarakat, yang menghubungkan antar lembur, antar kampung sampai jalan besar di selatan, yaitu Jalan Pungkur. 

Itulah gambaran jalan-jalan yang ada di batas timur Kota Bandung yang terdapat dalam peta yang terbit tahun 1905. Keadaan itu belum berubah sampai tahun 1910, seperti yang terdapat pada Peta Bandoeng en Omstreken yang terbit tahun 1910. 

Dari kedua peta yang terbit tahun 1905 dan 1910, di batas timur Kota Bandung, yang oleh masyarakat dinamai Kacakacawetan, yang berarti gerbang kota di sebelah timur. Toponimi pemberian masyarakat itu oleh Pemerintah saat itu diabadikan menjadi nama jalan antara Jalan Lengkong Besar ke arah timur sampai batas kota di ujung timur Jalan Asia Afrika. Pada kedua peta itu, di lokasi yang kini menjadi Parapatanlima, sudah ada parapatan, perempatan jalan. 

Dari titik tengah perempatan itu ke barat Jalan Asia Afrika, ke timur Jalan Ahmad Yani, ke selatan Jalan Karapitan, dan ke utara Jalan Sunda. Jadi saat itu jalannya benar-benar masih empat, sehingga masyarakat Bandung menyebutnya parapatan. 

Mengapa jalan raya pos itu dari Kacakacawetan berbelok menyerong sedikit ke utara? Karena sampai tahun 1910, seperti yang terdapat pada peta Bandoeng en Omstreken, sedikit ke timur dari Kacakacawetan itu berupa rawa seluas 38.944 m persegi, yang menerus ke selatan sampai Cikawao dan ke barat sampai Lengkong Besar. Inilah yang menjadi alas an besar saat itu, mengapa dari Jalan Lengkong Kecil belum tersambung ke Jalan Pungkur, dan Jalan Raya Pos harus berbelok sedikit ke utara. 

Agar dari jalan Ahmad Yani ruas sebelah barat tersambung dengan jalan di selatannya yang dibangun kemudian (Jalan Gatot Subroto), maka di Jalan Ahmad Yani pada jarak 240 meter dari Kacakacawetan dibuat jalan tembus sepanjang 150 meter (Jalan Katapang), menerus ke timur sampai Binong, berakhir di pertigaan antara Jalan Gatot Subroto dengan Jalan Kiaracondong dan Jalan Ibrahim Aji.  

Saat itu Jalan Katapang merupakan jalan utama yang menghubungkan Jalan Raya Pos (Jalan Ahmad Yani) dengan Jalan Papandayan (Jalan Gatot Subroto) di selatannya. Mulai dari belokan Jalan Gatot Subroto dengan Jalan Katapang sampai Kacakacawetan, belum dibangun jalan, dibiarkan masih berupa ranca, rawa yang luas dan dalam. 

Baru pada Peta Bandoeng-Zuid: Direvisi pada tahun 1931, diterbitkan tahun 1934, antara belokan Jalan Katapang dengan Jalan Gatot Subroto sampai Kacakacawetan sudah tersambung. Sangat mungkin pembuatan jalan itu terjadi pada tahun 1920-an, ketika pembangunan Kota Bandung sedang giat-giatnya.

Parapatan, perempatan di Kacakacawetan itu sejak itu jumlahnya bukan dibagi empat jalan lagi, tapi sudah dibagi menjadi lima, karena ada rusa jalan baru sepanjang 150 meter. 

Namun masyarakat sudah kadung menyebut parapatan, maka ketika bertambah satu jalan lagi, dinamailah Parapatanlima. Inilah toponimi yang benar, dan tidaklah perlu bergenit-genit menggantinya, karena toponimi itulah yang dilindungi undang-undang.