Pertanyaan pertama yang muncul terutama pada definisi eskatologi. Istilah ini sengaja diambil untuk mewakili perspektif tulisan ini. Mengingat bahwa Gerakan Literasi Nasional (GLN) sedang terus digeliatkan oleh pemerintah. Serta, dalam rangka menyambut Ramadhan tahun ini, mari kita tinjau gerakan literasi dari perspektif eskatologis.

Definisi Eskatologi

Kata “eskatologi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi V), es·ka·to·lo·gi /éskatologi/ n ajaran teologi mengenai akhir zaman seperti hari kiamat, kebangkitan segala manusia, dan surga.

Secara etimologis, eskatologi berasal dari Bahasa Yunanieschaton artinya “yang terakhir”, “yang selanjutnya”, “yang paling jauh”, dan logos artinya “pengetahuan”. Secara umum eskatologi merupakan keyakinan yang berkaitan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia, seperti kematian, hari kiamat, berakhirnya dunia, saat akhir sejarah, dan lain-lain.

Begitu juga dalam Ensiklopedia Indonesia (1987: 963), telah diterangkan arti eskatologi (eschatology) merupakan ajaran yang menguraikan secara teratur semua soal dan pengetahuan tentang akhir kehidupan manusia, seperti mati, neraka, surga, hukuman dosa dan pahala untuk kebaikan manusia, hari kiamat, pengadilan pada hari itu dan sebagainya.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa eskatologi merupakan suatu pengetahuan yang berkaitan dengan hal-hal yang “terakhir” dan ia merupakan bagian dari agama dan filsafat yang berkaitan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia seperti kematian, hari kiamat, kebangkitan, dan sebagainya.

Hubungan Eskatologi dengan Literasi

Lantas apa hubungannya dengan gerakan literasi? Mengapa literasi disandingkan dengan eskatologi?

Baiklah, seperti uraian definisi di atas, eskatologi sama sekali tidak terkait dengan literasi. Bahkan literasi secara harfiyah sangat jauh dengan kajian teologis. Sementara teologi ini sangat erat kaitannya dengan masalah-masalah dalam cakupan eskatologi. Justru sengaja tulisan ini hendak mendekatkan literasi dengan teologi sehingga bisa ditinjau secara eskatologis.

Literasi sementara ini menjadi simbol gerakan membaca dan menulis. Pada tahap ini pemerintah memperluas arti literasi yang dituangkan dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN). GLN terbagi ke dalam 6 (enam) jenis aspek literasi dasar; yaitu (1) literasi baca-tulis, (2) literasi numerasi, (3) literasi sains, (4) literasi finansial, (5) literasi digital, dan (6) literasi budaya dan kewargaan.

Pembagian jenis literasi ini tentu bukan untuk memecah fokus gerakan membangun keterampilan literasi kita. Malah sebaliknya, GLN membuatnya lebih nyata dan lebih terarah.

Untuk menguatkan pandangan eskatologis terhadap GLN ini tidak serta merta dapat dilekatkan begitu saja. Mari kita runut.

Pertama, Islam pertama kali ditandai dengan turun wahyu iqra kepada Muhammad bin Abdullah. Sejak itu beliau dinobatkan sebagai Nabi dan Rasul pembawa ajaran literat.

Kenapa saya sebut ajaran literat? Literasi itu bukan terhenti pada kegiatan membaca dan menulis. Gerakan ini mengarahkan pada sebuah pemahaman yang utuh tentang sesuatu. Bukan pada kata atau kalimat yang tersurat saja. Namun, perlu dilanjutkan pencarian makna dan hikmah dari setiap naskah yang kita baca.

Al-Qur’an menyebut 24 (dua puluh empat) ayat terkait anjuran berpikir (ta’qilun). Berpikir tentang banyak hal. Dari fenomena dan nomena, yang kemudian mengantar pada sebuah pengetahuan. Hakikat epistemologi adalah pencarian pengetahuan sehingga absah menurut metodenya. Melahirkan keyakinan bahkan ilmu pengetahuan.

Logika berpikir bayani, burhani, dan irfani, adalah istilah yang dipinjam dari pemikiran Al-Jabiri untuk mewakili epistemologi dalam kajian studi yang dilakukannya, yang sebelumnya ia gunakan sebagai kritik atas nalar Arab. Proses itu dapat menjadi pijakan kita dalam berliterasi. Bagaimana penggalian pengetahuan kita dapatkan, bagaimana dalil-dalil logika menjelaskannya, bahkan pengetahuan yang kita peroleh tanpa memerlukan dalil logika sama sekali.

Kedua, teologi meniscayakan keyakinan tanpa keraguan. Dalam hal ini erat kaitan dengan dogma keimanan. Sebuah keyakinan akan suatu kebenaran diperoleh tidak secara an sich. Seperti tubuh menerima vaksin anti virus, ia akan bereaksi sehingga efek muncul sampai berhenti pada kesimpulan tubuh seseorang dinyatakan sehat dan kebal terhadap penyakit yang ditimbulkan virus tersebut.

Begitulah proses literasi semestinya mengantarkan pada sebuah pengetahuan yang membawa keyakinan akan kebenaran suatu informasi. Penanaman akidah literasi tidak cukup hanya dengan modal sosialisasi dan gembar-gembor kegiatan seremoni. Sebagaimana dakwah punya misi membentuk dan menguatkan keyakinan. Keyakinan yang tumbuh dan mengakar logis berdasar pada argumen-argumennya.

Ketiga, literasi akan semakin berarti dengan menunjukkan hasil berupa produk-produk karya. Karya sebagai hasil perenungan dan pengejawantahan pengetahuan tentang sesuatu yang diharap membawa manfaat bagi semua penikmat karyanya.

Muatan edukasi, informasi, dan penanaman benih pengetahuan yang dilakukan dengan gaya dan ciri khas genre karya itu sendiri. Baik dalam karya ilmiah, terlebih sastra untuk memanusiakan manusia. Alhasil, proses ini diharapkan akan melahirkan generasi literat. Generasi yang peka terhadap perubahan zaman, bukan malah tergerus dalam arusnya, melainkan menjadi penerus generasi yang senantiasa mengawal perubahan. Tentu dengan fondasi hakiki, kebenaran tanpa keraguan. Informasi tiada bias, bukan sekadar luapan emosi sesaat apalagi ujaran kebencian.

Berawal dari ayat-ayat literasi yang disebutkan di atas, bukan saja mengantarkan kita untuk mencari kandungan ayat-ayat qauliyah, melainkan pula menuntun generasi literat untuk mencari makna dari ayat-ayat kauniyah. Secara sederhana, generasi literat adalah generasi yang mampu menyelami apa yang tersurat dan apa-apa yang tersirat.

Tidak mustahil, generasi yang akan datang menjadi generasi emas seperti dambaan tujuan pembangunan bangsa. Pasalnya adalah, mereka hidup bukan untuk hari ini saja, melainkan memiliki tujuan nyata karena secara eskatologis, manusia akan mengalami kehidupan di alam kelak. Alam setelah dunia ini berakhir. Maka, tatanan kehidupan yang lebih baik di dunia sekarang tentu bukanlah isapan jempol belaka, sebab generasi literat senantiasa memiliki fondasi kuat dan visi yang mantap dalam menatap masa depan.

Sekelumit pencarian tautan eskatologis dengan gerakan literasi ini patut dipertimbangkan, sebab kehidupan akan berlanjut setelah akhir kehidupan itu sendiri. Kehidupan fana untuk menyongsong kehidupan abadi. Di alam sana, di hadapan Mahkamah Agung Konstitusi Literasi Sejati. Karya agung literasi seyogyanya mendayagunakan segenap keagungan Tuhan sebagai Sang Pencipta Maha Karya. Semoga tulisan singkat ini dapat mengawali upaya menautkan literasi dengan eskatologi. Paling tidak karya kita abadi di kehidupan anak-cucu kita, kelak. Abadi dalam karya atau hilang di balik meja sidang penilaian baik, buruk, bermanfaat, atau hanya menjadi seonggok sampah sejarah.

Allahu a’lam bishshawab. [*]