SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Dibangun di atas tanah milik Komando Daerah Militer (Kodam), Stadion Siliwangi yang terletak di Jalan Lombok, Bandung, Jawa Barat, dahulu menjadi tempat kebanggaan warga Bandung saat menyaksikan klub kesayangannya: Persib. 

Meski Bandung, setelah Jakarta dan Surabaya, adalah kota terbesar ketiga di Indonesia pada tahun 1950-an, butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya kota pegunungan ini memiliki stadion yang bagus. 

"Tempat-tempat kecil lainnya telah mendahului Bandung dalam hal ini," dipaparkan Preangerbode, dalam sebuah artikel yang terbit pada 26 Maret 1956.

Menurut Dimas Wahyu Indrajaya, sejarawan muda dan pengisi konten akun Instagram Memori Olahraga, Stadion sepak bola itu mulai dibangun pada 1 Januari 1954.

"Stadion ini, dalam artikel Landmacht bouwt een groot stadion in Bandung di surat kabar De Preangerbode (10 Mei 1954), disebutkan biaya pembangunannya saat itu ialah Rp6 juta," tulis Dimas.

Kemudian, pada 24 Maret 1956 atau tepat 10 tahun peristiwa Bandung Lautan Api, Stadion Siliwangi diresmikan.

Menurut laporan Java Bode (20 Maret 1956), peresmian stadion dilakukan pada pukul tiga sore dan dihadiri Panglima Tentara dan Teritorium III, Kolonel Inf A.E. Kawilarang.

"Terima kasih atas inisiasinya! Nyonya Kawilarang, istri Panglima Wilayah, melakukan upacara pemotongan pita hijau-kuning yang menutup pintu masuk utama di bawah galeri agung," lanjut laporan dari Preangerbode.

Acara pembukaan stadion diwarnai upacara kemiliteran serta pengibaran bendera nasional. Selain itu, pihak panitia juga melepaskan beberapa lusin burung merpati dan balon udara yang mengusung bendera bertuliskan Stadion Siliwangi.

Selepas upacara, sebuah laga persahabatan sepak bola juga dihelat. Dijadwalkan saat itu timnas Indonesia mesti berhadapan dengan kesebelasan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

"Timnas Indonesia asuhan Antun 'Toni' Pogacnik bermain full team (hanya minus Tan Liong Houw yang sedang melangsungkan pertunangan dengan pujaan hatinya). Sejumlah pilar andalan mengisi lini depan, seperti Jasrin Jusron, Jusuf Siregar, Andi Ramang, Djamiat Dalhar, dan Aang Witarsa," ungkap Dimas yang merupakan lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia.

Perwakilan PSMS Medan, Jusuf Siregar, disebut menjadi penampil terbaik di laga tersebut. 

"Jusuf Siregar masih menjadi salah satu penyerang terbaik Indonesia, dengan tembakan berbahaya di kedua kakinya," lapor surat kabar De Nieuwsgier pada tanggal 26 Maret 1956.

Dapat dikatakan, berdasarkan pendapat Dimas, "Timnas Indonesia masih terlalu tangguh bagi TNI AD. Mereka saat itu mampu menang telak dengan skor 5-1." [*]