Bagi sebagaian masyarakat di Indonesia rasanya kurang lengkap ketika berbuka puasa tidak tersaji buah kurma. Tak heran memang, mengingat penduduk Indonesia yang mayoritas muslim dan sudah menjadi budaya setiap bulan Ramadan dan Idulfitri.

Buah kurma menjadi primadona untuk dikonsumsi di tanah air. Mengapa di Indonesia kurma sangat populer saat bulan puasa? Ada dua faktor utama mengapa kurma sangat diminati, yang pertama adalah karena negara Indonesia mayoritas muslim dan mengetahui keutamaan dari mengkonsumsi buah kurma.

Bagi umat muslim, mengkonsumsi buah kurma saat berbuka merupakan anjuran Sunnah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.2356), “Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah),  jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air”.

Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah manfaat buah kurma yang sangat tinggi bila dikonsumsi saat berbuka puasa. Nabi Muhammadshollallohu 'alaihi wasallam menganjurkan untuk mengkonsumsi kurma saat berbuka tentu ada hikmah yang besar di dalamnya. Ketika berpuasa lambung kosong karena tidak mendapatkan asupan nutrisi dari makanan dan minuman. Mengkonsumsi buah kurma pada saat berbuka puasa merupakan salah satu cara untuk mengembalikan energi bagi tubuh setelah melaksanakan puasa.

Melihat potensinya yang cukup tinggi dan didukung dengan suburnya tanah Indonesia, seharusnya negara kita mampu membudidayakan pohon kurma. Paling tidak di awalnya untuk kebutuhan dalam negeri sendiri. Wilayah Indonesia potensial untuk produksi kurma dalam skala besar karena beriklim tropis dan memiliki kelembaban yang sesuai bagi pertumbuhan pohon kurma.

Dikutip pernyataan tokoh, "Kesesuaian iklim membuat kurma dapat tumbuh di semua wilayah Indonesia yang terkena panas matahari setahun," kata Pimpinan Hutan Penelitian "Wanagama" Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, Sukirno Dwiasmoro Priyanto.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor kurma Indonesia pada Maret 2021 mencapai USD 17,1 juta atau setara Rp. 239,4 miliar (kurs Rp. 14.000 per USD) untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri. Bahkan Impor kurma Januari-Maret 2021 terus melonjak hingga mencapai USD 42,3 juta. Tiga negara pengimpor kurma terbesar ke Indonesia yaitu Mesir, Tunisia dan Arab Saudi.

Memang tidak mudah untuk mengembangkan budidaya kurma di Indonesia. Perbedaan iklim dan jenis tanah merupakan tantangan terberatnya. Tanaman kurma cocok dibudidayakan di daerah yang beriklim kering dengan tanah berpasir. Sejauh ini, selain di kawasan Timur Tengah yang memang menjadi daerah asal pohon palem itu, tidak banyak yang berhasil mengembangkan kebun kurma. Di negara Asean baru Thailand yang berhasil mengembangkan agribisnis usaha budidaya kurma, dengan andalannya kurma tropis.

Kendala lainnya adalah persoalan teknis yang umumnya tidak banyak dikuasai oleh petani di Indonesia. Mulai dari teknik menyemai biji, teknik menanam, hingga teknik mengawinkan bunga agar terjadi penyerbukan sehingga berbuah. Ada pohon kurma ‘jantan’ serta pohon kurma ‘betina’.  Bunga dari ‘kurma jantan’ banyak dicari buat diambil benangsarinya untuk diserbukkan pada bunga ‘kurma betina.’

Sulitnya bertanam kurma bahkan membuat Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam pernah keliru. Suatu hari Nabi berkunjung ke kebun kurma, dan memberi saran pada petani pemilik kebun agar menanam secara alami pohon kurmanya. Lalu petani tersebut mengikuti saran Nabi. Hingga waktunya berbuah, produktivitas panennya menurun, lalu petani tersebut mengadukannya kepada Nabi. Lalu, Nabi mengakui kekeliruannya dengan menyampaikan ucapan yang kemudian menjadi hadis terkenal yang diriwayatkan oleh Thabrani, “Engkau lebih tahu tentang urusan duniamu.”

Solusi yang sangat penting adalah peran aktif pemerintah untuk mengembangkan usaha budidaya pertanian komoditas kurma. Banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satu yang paling efektif adalah belajar kepada negara tetangga kita Thailand yang bisa dibilang sudah mulai berhasil melakukan usaha agribisnis tanaman kurma tropis. Bahkan mereka sudah mampu mengekspor ke beberapa negara.

Pemerintah segera memetakan wilayah-wilayah di Indonesia yang cocok untuk dijadikan areal perkebunan kurma. Selanjutnya mendatangkan trainer dari Negeri Gajah Putih untuk memberikan pelatihan-pelatihan teknis kepada para petani cara berkebun kurma dari mulai A sampai Z. Kesabaran dan ketelatenan menjadi kunci penting dalam bercocok tanam kurma. Dari mulai tanam hingga berbuah pertama kali, diperlukan waktu 6 tahun, serta 20 tahun untuk dapat berbuah secara maksimal. Dan jika berhasil, pohon kurma dapat terus produktif hingga lebih dari 100 tahun. Bila memang seperti itu, in syaa Alloh keberkahan dunia dan akhirat dapat diraih dari budidaya tanaman kurma ini. Semoga Allah Swt. memudahkan. [*]