AYOBANDUNG.COM--Pekerjaan utama Raden Kartawinata antara 1872 hingga pensiun sebagai pegawai kolonial pada 1905 adalah menerjemahkan pelbagai keputusan dan aturan yang diterbitkan oleh pemerintah kolonial.

Tentu saja, termasuk menjadi penerjemah atau juru bahasa saat berlangsungnya pengadilan yang melibatkan orang Sunda. Saya pikir, kerja penerjemah lisan ini dilakukan Kartawinata saat dirinya mulai diangkat menjadi adjunct translateur pada 1874 dan penerjemah penuh pada 1877 dengan tempat dinas di Bandung.

Dari berbagai sumber, antara lain dari buku Mikihiro Moriyama (2005) dan pencarian di internet, saya mendapatkan beberapa judul hasil terjemahan Kartawinata dalam ranah hukum pemerintah, termasuk file karyanya secara utuh.

Namun, sebelum lebih jauh membahas hasil terjemahan tersebut, ada baiknya menengok dulu ke dalam sejarah perkembangan penerjemahan bidang hukum kolonial ke dalam bahasa pribumi. Ini bisa menjadi latar belakang untuk melihat kiprah Kartawinata dalam bidang ini.

Salah seorang penulis yang membahas tentang perkembangan penerjemahan hukum kolonial ke dalam bahasa Melayu khususnya, dan umumnya bahasa pribumi adalah Ab Massier. Dalam buku suntingan Henri Chambert-Loir, Sadur: Sejarah Terjemahan Di Indonesia dan Malaysia (2009), Massier menulis makalah bertajuk “Terjemahan Hukum Kolonial ke dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia: Satu Pengantar”.

Menurut Massier (2009: 570-571), penerjemahan memainkan peran penting di dunia hukum sejak zaman VOC. Ini disebabkan karena masih jarangnya pribumi yang dapat berbahasa Belanda. Mulanya tidak banyak yang tertulis, melainkan secara pikiran atau dilisankan.

Menurutnya, paling tidak antara 1816-1942 dihasilkan sekitar 175 terjemahan aturan atau hukum kolonial, berupa terjemahan ordonansi dan kompilasi; terjemahan yurisprudensi; dan naskah Melayu berisi hukum kolonial bagi pribumi. 

Secara kelembagaan, penerjemahan hukum secara resmi dilakukan melaluiSecretariaat voor de Inlandsche Zaken (Sekretariat untuk Urusan Pribumi) padaAlgemeene Secretarie(Sekretariat Umum) yang didirikan di Batavia pada Oktober 1820. Selain mengurusi korespondensi dan membina hubungan diplomatik dengan penguasa pribumi; dan produksi buku tentang bahasa pribumi dan pendidikan pelajar bahasa pribumi (élèves voor de Inlandsche talen), tugas utama sekretariat adalah menerjemahkan keputusan dan aturan pemerintah.

Selanjutnya, kata Massier (2009: 573-576), umumnya aturannya harus dibuat ke dalam bahasa Tionghoa dan pribumi. Pada 1 Mei 1848, suatu kumpulan undang-undang dan peraturan perundang-undangan (nieuwe wetgeving) mulai berlaku di Hindia-Belanda. Sasarannya orang Eropa dan yang dipersamakan dengan mereka. Sebelumnya pada 1847, ada resolusi mengenai penerjemahan peraturan perundang-undangan baru ke dalam bahasa Melayu dan Jawa. 

Pada prinsipnya, terjemahannya harus sealamiah mungkin, meski tetap harus mempertahankan zin(arti) serta kracht (kekuatan) naskah Belandanya. Terjemahan ke dalam bahasa Melayu dan Jawa harus dilakukan dalam bentuk projek bersama agar mencegah kemungkinan terjadinya perbedaan arti antara naskah-naskah ini dengan naskah aslinya dalam bahasa Belanda. Ini pula yang diungkapkan A.B. Cohen Stuart yang sempat menerjemahkan hukum baru itu ke dalam bahasa Melayu (1853). Katanya, penerjemahan ke dalam bahasa pribumi seharusnya dilakukan oleh penutur asli di bawah pengawasan orang Eropa yang ahli.

Selanjutnya, dalam Regeeringsreglement 1854 disebutkan bahwa bila dianggap perlu peraturan baru diumumkan dalam bahasa pribumi dan Tionghoa. Kitab UU hukum pidana baru untuk orang Eropa diumumkan lagi pada 1866, dan versi pribuminya pada 1872. Hingga saat itu, pribumi tetap tunduk pada hukum adat perdata dan pidana. Pada praktiknya, sejak 1870-an, Landsdrukkerij tidak hanya menerbitkan terjemahan officieel (resmi) ke dalam bahasa Melayu, Jawa dan Tionghoa, tetapi juga ke dalam bahasa Sunda, Madura, Bugis, Makassar, Mandailing, Angkola dan Bali. 

Uraian Massier di atas dapat kita gunakan sebagai gambaran atau latar belakang bagi aktivitas penerjemahan Kartawinata terhadap aturan-aturan yang diterbitkan oleh pemerintah kolonial dan wajib diketahui oleh orang Sunda. Dari penelusuran, saya mendapati adanya Besluit Betreffende de Regeling der Heerendiensten in het Soendaneesch (1875) dan pada Staatsblad voor Ned. Indie (1875/76) yang berisi “Soendasche vertaling van verschillende nummers”. Apakah di balik kedua versi Sunda aturan tersebut melibatkan Kartawinata? Saya tidak tahu, karena sepanjang penelusuran pustaka, saya hanya mendapatkan judulnya belaka. 

Adapun hasil yang diterjemahkan oleh Kartawinata, menurut Mikihiro Moriyama (Semangat Baru, 2005: 284, 286, 287, 289, 290) dan hasil penelusuran antara lain: “Parentah jeung Piwuruk baris Nuduhan Petana Amtenar-amtenar Eropa jeung Pribumi Rawuh Pangkat-pangkat Ngalamphkeunana Timbalan kana Ngajaga Paragan Sato” (1880); “Aturan Ngurus Sakitan-sakitan di Indiya Nederlan” (1882); “Boekoe Wet Hal Pangadilan Hoekoeman baris Oerang Priboemi di Indie-Nederland” dan “Boekoe Wet Hal Pangadilan Hoekoeman djeung Atoeran noe djadi Babakoe Hoekoeman Politie baris Oerang priboemi di Indie-Nederland” (1889); dan “Pondokna Undang-undang Hal sabagiyanana Wadya Balad Daratan Urang Pribumi di Indiya” (1889).

Bila dikaitkan dengan uraian Massier, karya-karya terjemahan Kartawinata tersebut memang diterbitkan oleh percetakan pemerintah kolonial, Landsdrukkerij. Dari sisi aksara yang digunakannya rata-rata ditulis dalam aksara Cacarakan, kecuali “Boekoe Wet Hal Pangadilan Hoekoeman djeung Atoeran noe Djadi Babakoe Hoekoeman Politie baris Oerang priboemi di Indie-Nederland” yang menggunakan aksara Latin atau Roman.

Karena rata-rata menggunakan Cacarakan itulah, untuk membaca dua contoh hasil terjemahan Kartawinata, saya mendapatkan bantuan dua orang kawan filolog muda Ilham Nurwansah dan Hady Prastya. Dalam tulisan ini, saya akan mendahulukan “Aturan Ngurus Sakitan-sakitan di Indiya Nederlan” (1882) sebagaimana dibaca Hady pada 16 April 2021 - sesuai kronologi penerbitan bukunya. 

Pada awal aturan, terbaca demikian: “Kangjeng tuan besar gupernur jéndral tanah Indiya Néderlan geus ngadangu timbangan rat Indiya Néderlan. Maparin salam ka sakur nu maca atawa ngareungeu ieu. Serta maparin nyaho”(Gubernur Jenderal Hindia Belanda telah menyimak pertimbangan dewan Hindia Belanda. Menghaturkan salam kepada semua pembaca atau yang mendengar hal ini. Serta hendak memberi tahu).

Selanjutnya,“Yén anjeunna kersa nangtukeun surat aturan anyar. Supaya bisa ngajaga tambah surutna sakitan-sakitan di Indiya Néderlan kana pangurusna nu boga sangkingan. Serta kersa ngatur pagawéyanna éta sakitan-sakitan. Sabot tacan aya surat paréntah nu sampurna hal éta. Kasebut dina artikel 11 buku wét hukuman baris urang Eropa jeung sabot tacan anggeus surat aturan baru hal gawéan kerja paksa nu ayeuna keur dimanahan kénéh” (Bahwa dia hendak menentukan aturan baru. Supaya dapat mengurangi para narapidana di Hindia Belanda bagi pengurusnya. Serta hendak mengatur pekerjaan narapidana tersebut. Sementera belum ada surat perintah yang sempurna untuk hal tersebut. Tersebut dalam pasal 11 buku hukum hukuman untuk orang Eropa dan sementara sebelum keputusan aturan baru selesai yaitu mengenai kerja paksa yang sekarang masih dipertimbangkan).

Pada pasal pertama aturan ini disebutkan“sagala wawangunan di Indiya Néderlan nu ayeuna dipaké bui, éta saheulanan tetep baé dipakéna bui” (segala bangunan di Hindia Belanda yang selama ini digunakan sebagai penjara, untuk sementara tetap digunakan sebagai penjara). Selanjutnya, pada akhir aturan yang akan diberlakukan sejak 1 Agustus 1871 (“Ieu surat paréntah jadina tanggal 1 Agustus 1871”) ini tertulis, “Éta supaya taya nu nyebutkeun henteu nyaho di unina surat aturan ieu, ieu surat aturan mangke diasupkeun kana setatseblad Indiya Néderlan, serta diuarkeun saparantina maké basa pribumi jeung basa Cina” (Agar tidak akan ada orang yang mengaku tidak tahu keputusan ini, surat aturan ini akan dimasukkan ke dalam Staatsblad Hindia Belanda serta diumumkan dengan menggunakan bahasa pribumi dan Tionghoa). Penyebutan “maké basa pribumi jeung basa Cina” ini juga sesuai dengan temuan Massier di atas. 

Aturan mengenai narapidana itu disampaikan oleh Gubernur Jenderal P. Mijer di Bogor pada 3 Juni 1871, diterbitkan oleh Sékretaris Jéndral Van Harencarsple atas nama Algemeene Secretarie pada 17 Juni 1871.

Kemudian Ilham Nurwansah (21 Maret 2021) membacakan untuk saya daftar isi“Pondokna Undang-undang Hal sabagiyanana Wadya balad daratan Urang Pribumi di Indiya” (1889) yang merupakan terjemahan bagi “Kort overzict van eenige personeele verordeningen omtrent het Inlandsche gedeelte van het Indisch leger”. Dari daftar isinya, saya jadi tahu bahwa ringkasan undang-undang untuk pribumi yang akan masuk menjadi tentara kolonial tersebut terdiri atas 19 pasal. 

Pasal pertamanya berupa“perjangjiyanana pakeun ngasupkeun soldadu” (perjanjian bagi yang memasukkan tentara); pasal kedua “hal uwang tulungan jeung uwang buruhan ngasupkeun” (mengenai uang bantuan dan uang upah memasukkan); pasal-pasal selanjutnya antara lain mengatur besaran gaji tentara pribumi, makanan di tangsi, perumahan, pakaian, pengobatan, kewajiban utama (“Kawajibanana soldadu nu jadi babaku”), anugerah, medali, dan lain-lain. 

Menarik sekali untuk membaca pasal pertamanya. Sebagaimana yang dialih-aksarakan oleh Hady Prastya (26 April 2021), di situ tertulis,“Urang pribumi nu diasupkeun jadi soldadu téh, nyaéta nu nyuhunkeun sorangan, umurna geus aya 18 nepika 30 taun, sarta kasebut dina surat saksi (certificaat) nu dipasihkeun ka manéhna ti tempat matuhna pangbéhdieuna kongas hadé lakulampahna (tapi éta katranganna kitu téh montong satarabasna teuing), jangkungna kurang-kurangna kudu 1,55 m (ari baris usar mah sakurang-kurangna 1,60 m). sarta disebutkeun ku doktor militér atawa ku doktor nagara, nu wenang kana hal éta, yén éta jelema hadé baris kana pagawéan soldadu” (Orang pribumi yang dimasukkan menjadi tentara adalah atas permintaannya sendiri, umurnya antara 18 hingga 30 tahun, dan telah disebutkan dalam sertifikat yang diberikan kepadanya dari tempat tinggalnya yang paling kemudian. Berkelakuan baik [tetapi keterangan demikian jangan terlalu jelas], tinggi badannya setidaknya 1,55 m [sementara untuk kavaleri setidaknya 1,60 m], serta telah dinyatakan oleh dokter militer atau dokter negara, yang berwenang mengenai hal tersebut, bahwa yang bersangkutan baik bila bekerja sebagai tentara).

Untuk pasal kesembilan “Kawajibanana soldadu nu jadi babaku” tertulis demikian: “Kawajibanna soldadu nyaéta diajar metakeun pakarang, nu dipasihkeun ku gupernemén pakéeunna, jeung séjén-séjénna  pagawéan nu matak jadi tambah-tambah ngarti kana hal aturan soldadu, jeung supaya salawasna bérés jeung berséka jeung salian ti éta” (Kewajiban tentara adalah belajar menggunakan senjata, yang diberikan oleh gupernemen untuk digunakan oleh dirinya, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang akan menambah pengetahuannya ihwal aturan ketentaraan, dan supaya selamanya berlangsung lancar dan berseka dan lain-lain). Namun, di atas itu semua,“Jeung deui soldadu téh dimistikeun kudu nurut pisan ka saluhureun, sarta salawasna kudu hadé laku-lampahna” (Lagi pula tentara diharuskan untuk menuruti perintah atasan, dan selamanya harus bertingkah laku yang baik).

Mengenai tanda kepangkatan dibahas pada pasal ke-18, “Hal cicirén” (ihwal tanda). Pasal ini terbagi dua, yakni“Setrip cicirén lilana ngalakonan gawé”(strip tanda lamanya masa kerja) dan“Bintang kaweningan sanggeusna 12, 24 atawa 50 taun jadi soldadu” (medali penghargaan setelah 12, 24 atau 30 tahun menjadi tentara). 

Aturan penggunaan strip diuraikan sebagai berikut:“Unggal-unggal genep taun jadina soldadu, sarta lamun dua taun deui kana pileupasna jadi soldadu, atawa lamun nyieun deui perjangjian anyar, sakurang-kurangna baris dua tauneun, éta manéhna meunang cicirén, demi rupana nu baris kopral jeung soldadu setrip konéng, nu baris onderopsir pasménhemas, ari dipakéna dina peupeuteuyan sabelah katuhu” (Setiap enam tahun menjadi tentara, dan dua tahun lagi akan berhenti sebagai tentara, atau bila menandatangani perjanjian baru, paling tidak untuk dua tahun, dia akan mendapatkan tanda, bentuknya bagi kopral dan prajurit berupa strip kuning, bagi onderopsir berupa jalinan pita atau renda emas, dipakainya pada lengan sebelah kanan atas).

Kemudian mengenai medali penghargaan antara lain disebutkan,“Upama jadina soldadu geus 24 taun, sarta taya kuciwana, éta meunang bintang pérak, lamun geus 30 taun meunang bintang emas jeung uwang ganjaran  f. 30”(Bila menjadi tentara selama 24 tahun, tanpa pernah menyebabkan kekecewaan, akan mendapatkan bintang perak, bila telah 30 tahun mendapatkan bintang emas dan uang hadiah f. 30).

Pada perkembangan selanjutnya, baik dengan atau tanpa peran Kartawinata, tetapi pasti melibatkan para penerjemah Sunda, aturan-aturan pemerintah kolonial terus diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda

Saat Kartawinata masih menjabat sebagai penerjemah antara lain terbit “Atoeran Metakeun Herendines di Tanah Prajangan” (1892). Setelah dia pensiun pada 1905, hasil terjemahan aturan pemerintah dalam bahasa Sunda antara lain “Reglement Tegal Pangangonan di Afdeeling Limbangan” (dalam Samentrekking van de Afdeelingsverslagen over de Uitkomsten der Onderzoekingen naar de Veeteelt in de Residentie Preanger-Regentschappen (1906: 64-66); dan “Atoeran Anjar ti Tanah Partikelir Sakoeloneun Tjimanoek (Staatsblad 1912 No. 422)” (1912).

Dengan demikian, karena Kartawinata tercatat sebagai penerjemah Sunda pertama yang dikenal dalam sejarah kolonial, maka dia pun dapat dicatat sebagai penerjemah pertama aturan atau hukum pemerintah kolonial ke dalam bahasa Sunda. Sehingga dengan demikian pula, bila melihat masa pengangkatannya sebagai penerjemah, maka “Besluit Betreffende de Regeling der Heerendiensten in het Soendaneesch” (1875) dan “Soendasche vertaling van verschillende nummers” (1875/6), yang sebelumnya tidak dapat saya jejaki identitas penerjemahnya, seharusnya dinisbatkan kepada Kartawinata.