LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Untuk pertama kalinya setelah Perang Dunia Kedua, perwakilan yang sungguh layak dari sepak bola Eropa, Stade de Reims, datang untuk bertanding sepak bola di Bandung.

Gemuruh dan hiruk pikuk menyelimuti kedatangan jagoan asal Eropa ini, menyambut pertandingan yang digelar 11 tahun setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya. 

Hampir tiga bulan setelah Stadion Siliwangi diresmikan, Stade de Reims dapat tiba pada waktu yang tepat. Kehadiran Stadion Siliwangi telah memungkinkan pengurus Chung Hua untuk menggelar pertandingan antara Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (Persib) dengan klub profesional asal Prancis itu.

Tak mengejutkan, animo warga amat besar dalam menyambut laga yang berlangsung pada Rabu sore, 27 Juni 1956

Pada masa itu, Stade de Reims tidak bisa dipandang sebelah mata. Klub ini pernah diperkuat oleh penyerang tajam nan legendaris asal Belanda, Abraham Leonardus Appel, yang mencetak 96 gol selama membela Stade de Reims (1949-1954).

Adapun pada saat bertandang ke Bandung, Stade de Reims berstatus sebagai finalis Liga Champions musim 1955/1956. Mereka kalah di final oleh Real Madrid, yang diperkuat legenda Alfredo Di Stéfano, dengan skor 3-4.

Jadi, bisa dibayangkan bagaimana hebohnya antusiasme pencinta sepak bola di Bandung akan kedatangan Stade de Reims. Baru dua minggu tim asal Prancis ini bermain lawan Real Madrid di Stadion Parc des Princes, Paris, lalu mereka bermain dengan Persib di Stadion Siliwangi.

Apalagi, kala itu, Stade de Reims masih diperkuat pemain hebat sekelas Raymond Kopa, sang kapten Robert Jonquet, sampai gawang yang dijaga oleh kiper René Jacquet.

Beban Persib amat berat, meskipun hanya laga persahabatan. Selain harapan dari para penonton lokal, dalam tur di Indonesia, Stade de Reims sudah menghancurkan Persija dengan skor 11-1, menyukur timnas Indonesia 5-1, dan mengalahkan Persebaya dengan skor tipis 1-0.

Bisa kalah tanpa dibantai pun sudah bagus untuk Persib. Tak ada yang bakal protes, mengingat siapa lawan mereka.

Tetapi, di luar dugaan, pada Rabu sore, 27 Juni 1956, level permainan kedua tim ternyata tidak jauh berbeda. Baik Persib atau Stade de Reims tidak mampu menjaga ketenangan, karena hujan yang terus turun tanpa jeda di Stadion Siliwangi. Laga itu dimainkan dengan tempo tinggi.

Stade de Reims, pada babak pertama, sempat memimpin 3-0. Mouche mencetak dua gol. Lalu Michel Hidalgo, yang membobol gawang Real Madrid di Final Liga Champions 1955/1956, juga merobek jala gawang Persib.

Meski begitu, semangat dan daya juang Persib membuahkan hasil. pemain sayap kanan pengganti, Atik, mencetak gol. Lalu, Wittarsa mencetak gol kedua dari tendangan penalti. 

Pertandingan pun berakhir dengan skor 3-2. Bagi Persib, ini bukan hasil yang buruk, tentunya, dengan merepotkan finalis UEFA Champions League (UCL). [*]