LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung dikenal dengan taman-tamannya yang beragam, unik, dan tematik. Ternyata desain Bandung sebagai Kota Taman sudah diinisiasi sejak 1800-an.

Adalah Pieter Sijthoffpark atau biasa disebut Pieterspark, taman pertama yang dibangun di kota ini. Letaknya persis di taman balai kota Bandung sekarang. Pieterspark bahkan sudah ada sebelum Bandung berstatus Gemeenteatau kota. 

Menurut Sudarsono Katam dalam bukunya 'Gemeente Huis (Balaikota) Bandung dan Sekitarnya dari Masa ke Masa' yang diterbitkan 2014, Pieterspark dibangun pada 1885. Sedangkan Bandung baru resmi berdiri sebagai sebuah kota 21 tahun setelahnya, yakni 1 April 1906.

Taman ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Asisten Residen Priangan pada masa itu, Pieter Sijthoff. Sijthoff dinilai telah banyak memberikan kontribusinya kepada perkembangan Bandung yang saat itu masih menjadi ibu kota kabupaten.

pieterspark-bandung.jpeg" />
Taman Pieterspark yang berada di Balai Kota Bandung. (dok. Pemkot Bandung)

Sudarsono mengatakan, Pieterspark dirancang oleh seorang botanikus Belanda bernama R. Teuscher. Taman ini merupakan cikal bakal Kota Bandung dijuluki 'kota taman.'

"Tatakota Kota Bandung memang dirancang mengacu ke pada konsep kota taman (Garden City) seperti di negara-negara Eropa," tulis Sudarsono.

Tak terhitung banyaknya pohon dan tanaman yang menghiasi di Pieterspark. Salah satu yang terkenal adalah pohon sepatu dewa atau ki angsret (Spathodea campanulata).

Kebutuhan air taman seluruhnya dialiri oleh Sungai Cikapayang yang mengelilingi taman. Sungai ini merupakan anak dari Sungai Cikapundung yang tersohor.

Seperti fungsi taman pada umumnya, pada 1930-an, Pieterspark menjadi lokasi favorit warga Bandung untuk berkumpul dan bersantai. Taman pun dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti bangku-bangku dan bahkan delman.

Perubahan nama dari masa ke masa

Menurut Sudarsono, Pieterspark resmi berganti nama menjadi Taman Merdeka pada 1950. Namun, taman ini tak lagi secantik dulu.

Hingga beberapa puluh tahun setelahnya, Taman Merdeka dikenal kumuh dan banyak dijadikan tempat berkumpul para gelandangan. Sampah berserakan. Bangku-bangku tak terawat. Begitu pula dengan fasilitas lainnya.

Taman ini baru kembali ditata pada masa pemerintahan Wali Kota Husen Wangsaatmaja pada 1980-an, yang kemudian digabung dengan Taman Badak yang ada di sebelah utara Balai Kota Bandung.

Ada yang menarik tentang Taman Badak yang ditulis Sudarsono dalam bukunya. Di taman ini terdapat sebuah Patung Badak Putih yang konon dibuat karena adanya mitos kepercayaan tradisional.

Warga berenang di kolam Taman Badak. (dok. Ayobandung.com)

Bupati Bandung saat itu, RA Wiranatakusumah II, percaya jika ibu kota kabupaten harus berlokasi di daerah yang tanahnya bahe ngidul(miring ke selatan), dekat sumber air, dan bekas paguyanganbadak putih (tempat berkubangnya badak putih). Tempat itu tepat di lokasi balai kota sekarang.

Pada 1996, Taman Merdeka kembali berganti nama menjadi Taman Dewi Sartika. Penggantian nama ini beriringan dengan diresmikannya patung dada Pahlawan Nasional Dewi Sartika di sana oleh Wali Kota Wahyu Hamijaya.

Patung dada Dewi Sartika di Balai Kota Bandung. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

Sejak saat itu, Pieterspark, yang kini menjadi Taman Dewi Sartika, terus berbenah. Pekan lalu Ayobandung.comberkesempatan untuk berkunjung ke sana dan berbincang dengan pengurus Taman Balai Kota Andri Yulianto (40).

Ia mengatakan, perubahan signifikan Taman Dewi Sartika terjadi setelah Ridwan Kamil menjabat sebagai Wali Kota Bandung. Taman ini memiliki luas 4.000 meter persegi dan dihuni lebih dari 500 jenis tanaman hias serta pepohonan rindang.

Taman yang ditutup karena pandemi tersebut terus ditata rapi, tak ada gelandangan dan kursi-kursi yang rusak. Pengolahan sampahnya pun sudah modern, melibatkan proses daur ulang dan pengomposan.

Satu hal yang tidak berubah, Pieterspark dan Taman Dewi Sartika dari dulu hingga kini tetap menjadi ikon Bandung sebagai 'kota taman'.