AYOBANDUNG.COM — Publik Indonesia sedang ramai-ramainya membahas kisah cinta putra presiden, Kaesang Pangarep. Ia dianggap telah keterlaluan, jahat, dan entah apa lagi hujatan yang telah disematkan oleh warganet kepadanya. 

Konon, ia pergi begitu saja meninggalkan Felicia Tissue, yang sudah menjalin hubungan bersamanya selama 5 tahun.

"Sudah lima tahun pacaran, loh, tega-teganya kamu, Mas Kaesang, tinggalkan wanita cantik begitu saja? Mas ... yang kamu lakukan itu, jahat ..." begitu celoteh seorang warganet di salah satu komentar Instagram.

Sebetulnya lebay, mengungkap kisah personal sebagai camilan publik. Bahkan terlalu berlebihan, sungguhpun Kaesang itu anak presiden. Tidak ada hak bagi kita, yang rakyat jelata dan terlalu biasa ini, untuk menghakiminya.

Menanti selama 5 tahun untuk dipersunting, tetapi kemudian gagal menikah? Mbak Felicia mesti tegar, sabar, yakinlah masih banyak lelaki lebih baik dari Kaesang. Itu pasti, selalu ada kemungkinan lebih baik di luar sana, meski mungkin bukan dengan anak presiden lagi.

Jika Mbak Felicia ingin sedikit belajar tentang kesabaran dan sikap legawa, setelah berusaha bertahun-tahun dan ujungnya dihantam kegagalan, bolehlah mencontoh pada betapa sabarnya Si Nyonya Tua menanti gelar juara Liga Champions.

Karena, jika dibandingkan dengan beragam kisah romansa yang dialami oleh para Juventini, nasib tragis yang dialami Mbak Felicia tak jauh berbeda. Mungkin yang dialami fan sepakbola ini lebih parah, sebab penantian mereka jauh lebih lama.

Analogi yang dapat digunakan dalam perbandingan ini ialah "pernikahan" sama dengan "trofi UCL".

Terhitung sejak terakhir kali Bianconeri mengangkat Si Kuping Besar, kini sudah 25 tahun berlalu. Selama rentang waktu tersebut, banyak Juventini, yang sebelumnya masih anak-anak, kini sudah punya anak.

Dari tahun 1996 sampai 2021 itu, hanya kegagalan yang senantiasa datang. Hanya harapan kosong.  Terhitung sudah 5 kali Juventus mencapai Final Liga Champions, tetapi itu semua sekadar ghosting.

"Jauh-jauh berusaha dan melenggang susah payah ke partai puncak, ujung-ujungnya gagal pula juara, untuk apa?" Pertanyaan serupa yang banyak dilontakan oleh warganet ke Mas Kaesang dan Mbak Felicia. 

Itu ibarat selama 25 tahun melalui proses PDKT, pacaran, berantem, rukun, sampai finalnya merencanakan nikah, namun malah gagal ketika tinggal selangkah lagi.

Perih itu sudah pasti. Tetapi bangkit dan berharap lagi juga harus.

Dan kini, pada babak 16 besar Liga Champions, peluang "gagal nikah" untuk Juventus muncul lagi. Masih belum sampai ke partai puncak, para Juventini sudah dibuat was-was lantaran Si Nyonya Tua kalah agregat 1-2 dari FC Porto.

"Kalaupun bisa menembus laga final, memang bakal juara?" 

Sekiranya semua fan Juventus akan kompak menjawab, "Entah, kami sudah pasrah."

Gagal itu sudah biasa. Terpenting ialah bangkit dan mencoba lagi. [*]