LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 memukul telak berbagai sektor bisnis di seluruh dunia. Tak terkecuali bisnis fesyen, bahkan di Kota Bandung yang notabene merupakan salah satu kota ikon fesyen di Indonesia.

Namun, tak perlu berkecil hati. Terdapat sejumlah cara yang dapat dilakukan agar usaha fesyen Anda tetap berputar selama pandemi berlangsung.

AyoBandung.com merangkum tiga tips yang dituturkan dua brand fesyen wanita kenamaan di Kota Bandung, Janameera dan Hijab Story

1. Analisa, Cari Peluang

Tenant relation Hijab Story, Mulyana Herlan mengatakan para pebisnis fesyen harus tetap dapat mencari celah bisnis dari tren yang tengah berlangsung. Buatlah produk yang diminati konsumen di tengah pandemi Covid-19.

Ia mencontohkan, tren bersepeda di berbagai kalangan dapat menjadi salah satu peluang. Misalnya dengan memproduksi produk fesyen penunjang olahraga.

"Intinya harus tetap semangat membuat produk yang diminati konsumen. Sekarang kan ada komunitas sepeda, berarti bisa bikin jaket yang bisa dipakai bersepeda. Cari motif yang sedang tren, seperti motif print," ungkapnya ketika ditemui di Hotel Savoy Homann Bandung, Sabtu (17/10/2020).

Selain itu, ia mengatakan, produk lain yang dapat diproduksi adalah barang-barang yang kini sudah berubah menjadi kebutuhan utama. Salah satunya adalah masker.

"Masker juga kan sekarang sudah jadi gaya hidup. Produk-produk baju satu set dengan masker, atau kerudung yang dipasangkan dengan masker banyak diminati. Jadi kebutuhan orang terpenuhi dan tetap gaya," paparnya.

Hal ini juga telah diadopsi oleh Janameera. Perwakilan Janameera, Bayu Utomo mengatakan saat ini brand tersebut telah mengeluarkan koleksi set masker yang disesuaikan dengan tren.

"Masker pun harus dipikirkan, bikin yang medis menjadi modis. Itu bisa jadi uang," ungkapnya ketika ditemui dalam kesempatan yang sama.

2. Sesuaikan Harga, Tebar Diskon

Tak dapat dipungkiri, pandemi juga menyebabkan masyarakat mengalami penurunan daya beli. Oleh karenanya, pebisnis disebut harus berani mengurangi margin keuntungan agar produknya tetap terjangkau.

"Misalnya dengan membuat piyama atasan-bawahan atau home dress yang murah-murah. Karena daya beli kurang, mungkin (brand) perlu mengeluarkan produk seharga Rp99 ribu, atau Rp79 ribu," ungkap Mulyana.

"Istilahnya mah 'buti', berani untung tipis," jelasnya.

Hal tersebut juga diamini Bayu. Ia mengatakan, salah satu hal yang menunjang penjualan produk fesyen Janameera selama pandemi adalah dengan melakukan potongan-potongan harga.

"Kami mainkan diskon-diskon, juga dengan strategi free ongkir (ongkos kirim)," ungkapnya.

3. Memaksimalkan Penjualan Online

Pembatasan mobilitas warga selama pandemi di berbagai daerah mau tidak mau membuat pelaku bisnis fesyen bergantung pada penjualan online. Padahal, sebelumnya banyak brand fesyen yang lebih mengandalkan penjualan offline termasuk Hijab Story dan Janameera.

Oleh karenanya, para pengusaha diimbau untuk dapat memaksimalkan penjualannya melalui online dengan beberapa strategi. Misalnya dengan mendesain foto produk sebagus mungkin.

"Tapi jangan asal online juga, angle foto produk itu sangat berpengaruh. Deskripsi barang harus jelas, mulai dari jenis bahan, size, dan lain-lain," ungkap Bayu.

"Salah satu yang sering jadi masalah kan ketika foto produk dengan barang aslinya berbeda. Nah kita harus bisa jaga komitmen sesuai deskripsi produk itu," jelasnya.

Mulyana juga menuturkan hal serupa. Selain mengunggah foto produk dengan kualitas baik, kolaborasi dengan marketplace juga bisa dimanfaatkan.

"Karena di sana (marketplace) banyak fasilitas, seperti ongkir gratis misalnya. Kita bisa kerjasama di situ," ungkapnya.