LENGKONG, AOBANDUNG.COM -- Hari ini tepat dua tahun lalu, 17 Oktober 2018, Pemerintah Kota Bandung secara resmi mencanangkan Gerakan Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan yang kemudian dipopulerkan dengan akronimnya Kang Pisman. Mengusung nama lokal, gerakan mengelola sampah dengan mengutamakan pemilahan sejak dari sumber ini diharapkan segera akrab di telinga masyarakat, lalu dipraktikkan.

Gerakan mengelola sampah sejak dari sumber bukanlah sesuatu yang sama sekali baru di Bandung. Sebelum dilabeli dengan Kang Pisman, Pemerintah Kota Bandung sudah merintis beberapa program bernafaskan semboyan yang demikian tenar di seluruh dunia, yakni 3R (reduce, reuse, recycle).

Melalui Kang Pisman, Pemkot bukan hanya ingin mengubah nama asing menjadi nama lokal. Gerakan ini juga digadang-gadang menjadi sebuah program massif jangka panjang yang mendapat sokongan pendanaan memadai. Bukan lagi program parsial yang dikerjakan berbasis proyek.

“Kang Pisman ini memang program jangka panjang. Tujuan kami adalah mengubah budaya masyarakat menjadi lebih bijak yaitu gaya hidup yang tidak memproduksi banyak sampah. Ujungnya adalah menciptakan Kota Bandung sebagai Zero Waste City,” kata Wali Kota Oded M. Danial ketika tampil sebagai pembicara di Konferensi Kota-kota Nol Sampah (ZWCC) di Penang, Malaysia, Senin (14/10/2019) lalu.

Ketika itu Oded menyampaikan data tentang 8 Kawasan Bebas Sampah (KBS) yang sudah melaksanakan program Kang Pisman dengan baik. Ia juga memaparkan pertumbuhan bank sampah baru di Kota Bandung, terdiri dari 30 bank sampah induk dan 382 bank sampah unit di tiap kecamatan. Nasabahnya tercatat sebanyak 3.390 orang per Juli 2019.

“Dengan bank sampah, rata-rata ada 79 ton sampah per hari yang bisa dimanfaatkan, dan mengurangi 852 ton sampah per bulan yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” tuturnya.

Betulkan Kang Pisman sudah melangkah sejauh itu?

Lebih Cepat dari Jepang dan Singapura

Kang Pisman diresmikan oleh Wali Kota Bandung Oded M. Danial di Cikapundung River Spot pada Rabu (17/10/2020). Sejak awal program ini diniatkan sebagai gerakan mengubah budaya warga dalam mengelola sampah. Ia mengajak semua pihak terlibat.

“Mengelola sampah itu memang harus berangkat dari diri masing-masing. Mengelola sampah mulai dari sumbernya. Pemerintah hadir untuk membangun infrastruktur dan mengajak melalui sebuah gerakan seperti KangPisMan,” tutur Oded ketika itu.

Dalam pidato peresmian itu Oded menekankan pentingnya kontribusi apparat sipil negara (ASN) dalam mendukung Kang Pisman. Ia mewajibkan ASN Pemkot Bandung melakukan swafoto saat membuang sampah dengan memilah ke dalam tiga kategori, yakni sampah kering, sampah basah, serta sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

“Bayangkan kalau ada 15.600 ASN Pemkot Bandung yang melakukannya, itu akan menjadi gerakan massif. Mang Oded berharap Kang Pisman jadi budaya. Kalau di Jepang butuh waktu 50 tahun, Singapura 30 tahun, semoga Bandung bisa kurang dari itu,” tuturnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Salman Fauzi menjelaskan, pentingnya penambahan jumlah Kawasan Bebas Sampah (KBS). Ia juga menyebut kebutuhan untuk menambah jumlah bank sampah. Ia melihat peluang dalam keberadaan 16 ribu posyandu di Bandung.

Hingga awal tahun 2020 ini, terdapat delapan kelurahan di Bandung yang berkomitmen menerapkan KBS, yakni Gempol Sari, Kebon Pisang, Sukamiskin, Kujang Sari, Sukaluyu, Neglasari, Cihaurgeulis, dan Babakan Sari. Penerapan KBS merupakan replikasi dari apa yang sudah dikerjakan di RW 9 Kelurahan Sukaluyu secara swadaya oleh warga dan komunitas pendamping. Saat ini warga di RW tersebut berhasil mengurangi produksi sampah hingga 60 persen.

Pegiat Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS) David Sutasurya menyatakan, upaya mempercepat replikasi penerapan KBS merupakan salah satu kunci keberhasilan gerakan Kang Pisman. Ia mendorong agar pemerintah memainkan peran dan tanggung jawabnya secara lebih kuat. Replikasi KBS harus mendapatkan sokongan di level peraturan.

Dari Pelibatan Komunitas ke Jejaring Internasional

Pengembangan Kang Pisman di Bandung sejak awal dikerjakan dengan melibatkan komunitas dan dan para pegiat isu pengelolaan sampah. Sudah dua tahun berjalan, Kang Pisman merangkul juga institusi dan lembaga-lembaga di luar lingkungan Pemkot Bandung, mulai dari perusahaan hingga perkantoran.

Lewat jejaring komunitas dan para pegiat isu pengelolaan sampah ini juga Pemkot Bandung memasuki jejaring internasional kota-kota yang menerapkan konsep nol sampah (zero waste). Pada 2019, Kang Pisman dikenalkan ke ratusan peserta Konferensi Kota-Kota Nol Sampah (ZWCC) di Penang, Malaysia.

Kang Pisman menjadi satu dari sembilan model rujukan pengelolaan sampah di 5 negara. Sembilan kota yang menjadi percontohan antara lain Kota Tacloban, Filipina; Fort Bonifacio, Kota Taguig, Filipina; Kota Seoul, Korea Selatan; Kota Bandung, Indonesia; Kota Kamikatsu, Jepang; Kota Thiruvananthapuram, India; Kota Penang, Malaysia; San Fernando, Filipina; dan Kota Malabon, Filipina.

Tantangan TPA Legok Nangka

Bandung memproduksi sampah 1.600 ton setiap harinya. Saat ini sebanyak 1.200 ton di antaranya diangkut ke TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat. Sejak Kang Pisman digulirkan dua tahun lalu, diklaim terjadi peningkatan volume sampah organik yang terolah dari 80 ton menjadi 100 ton per hari.

Karena tidak memiliki cukup lahan untuk mengolah sampah, Bandung menggantungkan sebagian pengolahan sampahnya pada kerja sama kawasan. Saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang mematangkan pengoperasian TPA Legok Nangka, Kabupaten Bandung sebagai pengganti TPA Sarimukti. Ditargetkan, infrastruktur baru tersebut bisa dibuka pada 2023 mendatang.

Bandung ikut dalam skema pengolahan sampah regional itu. Dalam komitmennya, Pemkot Bandung bakal menyetor sedikitnya 1.200 ton sampah per hari. Jumlah yang sama dengan volume sampah yang saat ini dikirimkan ke TPA Sarimukti.

Tidak sedikit kalangan mengkritik komitmen ini karena dinilai berlawanan dengan semangat Kang Pisman yang hendak mengurangi volume sampah lewat pemilahan sejak dari sumber. Kalau ada keharusan menyetor sampah sejumlah itu setiap harinya, buat apa pemilahan dari rumah tangga? Komitmen ini dikhawatirkan bakal membuat kendur semangat menerapkan Kang Pisman.