LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Istilah kaum menak mengacu pada salah satu kelas sosial di Tatar Sunda, pada abad 19 dan 20. Kaum menak dikenal sebagai elite politik tradisional yang memiliki kekuasaan atas rakyat-rakyatnya.

Dalam buku Nina Lubis berjudul Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942, menurut Zoetmoelder, kata menak berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya "bangsawan". Lalu pada abad ke-19, mulai tampak fenomena baru dalam lingkungan pemerintahan tradisional, yaitu adanya pejabat pribumi yang bukan keturunan bangsawan yang mengenyam pendidikan Barat ataupun punya kelebihan kemampuan, mereka bisa menjadi pejabat pangreh praja sehingga mereka pun tergolong ménak.

Oleh karenanya, terdapat perbedaan antara menak lama yang masih memiliki hubungan darah dengan bupati-bupati dinasti lama, dan menak baru, yaitu orang yang bukan keturunan bupati-bupati dinasti lama, tetapi menjadi menak karena jabatan. Diketahui pada abad ke-19 hingga tahun 1942, para pejabat tersebut tergabung dalam struktur birokrasi tradisional hasil rekayasa pemerintah kolonial, dengan mengambil struktur yang sudah lama ada, seperti bupati, patih, wedana, dan lain sebagainya.

Kaum menak ini dikenal memiliki gaya hidup yang mewah. Salah satunya bisa dilihat dari upacara atau pesta perayaan yang sering diselenggarakan dalam berbagai peristiwa.

Masih dalam buku Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942, berbagai upacara yang dilakukan kaum menak pada umumnya disertai pesta pertunjukan kebesaran, kesenian, dan kenikmatan, yang melambangkan makna hidup, kekuasaan, kekayaan, dan kewibawaan. Pesta semacam ini dapat dijadikan indikator derajat dan status penyelenggara, termasuk pertaruhan prestise dan kewibawaan seorang penguasa.

Salah satunya adalah upacara perkawinan. Kaum menak suka mengadakan pesta perkawinan secara besar-besaran, contohnya pesta yang diadakan oleh Kangjeng Dalem Galuh pada 1901, dia menyediakan jamuan besar bagi rakyat Kabupaten Galuh untuk makan gratis sebanyak tiga kali sehari. Pesta tersebut juga mendatangkan banyak tamu agung yang masih berasal dari kaum menak dan pejabat daerah.

Megahnya upacara dan pesta perkawinan yang diselenggarakan kaum ménak bergantung kepada derajat si penyelenggara pesta. Upacara perkawinan merupakan upacara puncak kemegahan jika dibandingkan dengan upacara lainnya, baik diukur dari jumlah undangan, variasi keramaian, maupun dari kemeriahan pesta.

Variasi upacara perkawinan terlihat pula dari pakaian sang pengantin. Dalam hal tersebut, tiap kabupaten di Priangan memiliki gaya pakaian yang berbeda-beda. Perbedaan terlihat di Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Ciamis.

Pengantin menak di Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung biasanya mengenakan pakaian mirip wayang wong. Bila masih keturunan bupati, pengantin wanita mengenakan siger, yaitu perhiasan mahkota terbuat dari emas bertatahkan intan berlian dan dipasang kilat bahu (semacam gelang besar yang dipasang di lengan bagian atas) serta gelang emas. Bagian bahu dibiarkan terbuka.

Berbeda dengan di Kabupaten Ciamis, pakaian pengantin yang dikenakan putri bupati pada tahun 1930-an bukan seperti pakaian wayang wong, melainkan kebaya warna putih dengan kain corak léréng. Rambut disanggul memakai mahkota dengan sluier. Pengantin pria memakai jas pendek hitam, kemeja takwa putih, kain yang sama dengan pengantin putri, dilengkapi iket. (Fariza Rizky Ananda)