SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Jembatan layang Pasupati, sejak pertama kali digunakan pada 2005 lalu, telah menjadi salah satu ikon paling terkenal Kota Bandung. Dalam peringatan Hari Jadi Kota Bandung ke-210 tahun ini, gambar infrastruktur sepanjang 2,8 kilometer ini  terpampang di logo resmi yang dibuat Pemerintah Kota Bandung. Diketahui, rancangan jembatan ini sudah muncul sejak tahun 1920-an.

Mengutip siaran pers Humas Kota Bandung, Jembatan layang Pasupati, yang namanya diambil dari singkatan nama dua jalan yang dihubungkannya yakni Jalan Pasupati dan Jalan Suarapati, secara historis sudah dirancang oleh arsitek Ir. Karsten yang bekerja membuat dasar-dasar rancangan Kota Bandung. Pada tahun-tahun itu, berdasarkan sejarah, Pemerintah Hindia Belanda sedang giat-giatnya menyiapkan pemindahan pusat pemerintahan dari Batavia ke Bandung. Banyak bangunan strategis dibangun di Bandung pada masa tersebut.

Pada 1931, rancangan jalan layang Pasupati masih menjadi obsesi lewat program Autostrada yang menghubungkan Jalan Pasteur dan Jalan Dago. Namun, pada kenyataannya baru pada 26 Juni 2005, menjelang pesta peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), jembatan layang tersebut bisa diujicobakan. Biaya pembangunan dicukupi dengan dana hibah pemerintah Kuwait.

Diketahui, jalan layang Pasupati merupakan jalan layang pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi antigempa. Pirantinya, disebut lock up device (LUD), dibuat di Prancis. Konstruksi ini juga dilengkapi belasan kamera cctv demi

Yang khas dari jembatan layang ini adalah kabel-kabel yang menopang kekuatan jembatan. Keindahan infrastruktur pada malam hari terlihat lewat sorotan lampu ke kabel-kabel tersebut.

Di bawah konstruksi jembatan layang, terdapat beberapa ruang publik yang bisa dimanfaatkan warga. Di antaranya, Taman Pasupati atau yang sering disebut Taman Jomblo, Taman Film, skate park, dan lapangan street soccer.

Dalam beberapa tahun terakhir, jembatan layang Pasupati disebut-sebut dalam rencana pembangunan jalan tol lingkar kota. Infrastruktur baru yang diklaim diperlukan untuk membantu mengurai kemacetan tersebut, dirancang menghubungkan jembatan layang dengan tol Pasteur lalu diteruskan hingga menjangkau kawasan timur Kota Bandung.

Namun, dari jembatan layang Pasupati yang megah itu, orang juga bisa menyaksikan sisi lain Kota Bandung hari ini, yakni permukiman yang sangat padat. Di kanan-kiri jembatan, terutama di kawasan Tamansari, terlihat jelas dari ketinggian rumah-rumah warga yang berimpitan di lahan terbatas. Lingkungan seperti ini biasanya berdampak pada mutu hidup, sedikitnya aspek sanitasi, para penghuninya.