SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah Kota Bandung telah mengizinkan layanan ojek online alias ojol untuk dapat beroperasi di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB). Namun, terdapat sejumlah penyesuaian yang harus dilakukan baik oleh pihak pengelola jasa maupun penumpang. Kepala Bidang Manajemen Transportasi dan Parkir Dinas Perhubungan Kota Bandung Khairul Rijal mengatakan, sejumlah prasyarat tersebut harus diterapkan guna menjaga protokol kesehatan tetap terlaksana. Salah satunya adalah menaruh alat pembatas di antara jok pengendara dan penumpang. "Sebenarnya dari Kementerian Perhubungan sudah izinkan dari 2 minggu lalu tapi karena Bandung waktu itu masih PSBB jadi baru Sabtu lalu Kota Bandung izinkan," ungkapnya di Balai Kota Bandung, Selasa (30/6/2020). Penerapan sekat duduk tersebut telah diperagakan oleh salah satu penyedia jasa layanan ojek online. Namun, hingga saat ini belum ada satupun dari penyedia jasa tersebut yang telah kembali mengaktifkan layanan ojek online di Kota Bandung. "Kemarin disarankan agar dipasang sekat pembatas agar ada jarak antara pengemudi dan penumpang," jelasnya. Selain memberi sekat, Rijal mengatakan pihak penumpang juga diminta untuk bisa membawa helm sendiri. Pasalnya, penggunaan helm bergantian dinilai sebagai salah satu media transmisi Covid-19 yang paling tinggi dalam kendaraan roda dua. "Seyogyanya penumpang bawa helm sendiri, karena itu bisa jadi media penularan paling mudah," ungkapnya. Sementara itu, pihaknya belum merumuskan aturan khusus bagi ojek pangkalan. Namun, dia mengatakan, sosialisasi penerapan protokol kesehatan akan terus dilaksanakan termasuk bagi para pengendara ojek pangkalan. "Kita terus lakukan pengimbauan, ini dilema juga karena warga butuh tapi di sisi lain banyak yang harus dipersiapkan. Intinya kami terus berikan imbauan," ungkapnya.