LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Suasana Bandung yang adem ayem berubah menjadi panas, setelah di tengah-tengah Pertempuran Surabaya, seorang yang menamakan dirinya sebagai Bung Tomo beteriak keras di depan mikrofon Radio Pemberontak Surabaya. 

Dalam bahasa Sunda, dia menyebut pemuda-pemuda Bandung bermental 'Peuyeum Bol' sejenis makanan khas Bandung yang terbuat dari tape. Sindiran itu ia lontarkan karena pemuda Bandung dianggap tidak berani melawan tentara Inggris.

"Dampaknya, pemuda-pemuda di Bandung merasa tersulut lalu melakukan pemberontakan dengan mengobrak-abrik Markas PETA di Cihapit," ujar pengamat sejarah Hendi Jo dalam diskusi online bertema Bandung Zaman Perang beberapa waktu lalu.

Meski maksud orang yang mengaku sebagai Bung Tomo itu baik, sebutan 'Pemuda Peuyeum Bol' tersebut sempat menjadi masalah. Bahkan rasa simpati pemuda Bandung terhadap Bung Tomo pun sempat hilang. Mereka beranggapan kata-kata itu tak pantas dikeluarkan oleh seorang tokoh pejuang.

"Dia tak berhak menilai keberanian kami dari kejauhan," ungkap Asikin Rachman (94), eks pejuang di Bandung, dilansir dari historia.id.

Setelah memantik pergerakan besar di Bandung, barulah terbongkar bahwa orang yang melontarkan kata 'Pemuda Peyeum Bol' itu bukan Bung Tomo. Orang yang berani mengejek pemuda Bandung itu adalah Soetomo yang tak lain juga merupakan pemuda Bandung. 

Sutomo alias Subrata adalah salah satu anggota delegasi pemuda Jawa Barat yang datang ke Kongres Pemuda di Yogyakarta pada 10 November 1945 mewakili KNI (Komite Nasional Indonesia) Cicadas.

Menurut seorang anggota KNI Jawa Barat bernama Madomiharna, Soetomo dikenal sebagai pemuda yang pandai berpidato. Laiknya Bung Tomo asli, Soetomo pun memiliki suara yang menggelegar dan pandai beretorika.

"Makanya kami memberi julukan kepadanya sebagai 'Bung Tomo dari Cicadas'," ungkap Midomiharna seperti dikutip dalam Mohammad Rivai: Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 karya Suwardi Suwardjo dkk.

Usai mengikuti kongres di Yogyakarta, delegasi Jawa Barat lantas berangkat ke front Surabaya. Ketika berada di studio Radio Pemberontak Surabaya pada 13 November 1945, 'Bung Tomo dari Cicadas' itu meminta kesempatan untuk bicara di depan mikrofon. Bung Tomo asli yang saat itu berada di studio pun memberikan izin.

"Soetomo itu saya benarkan berbicara di depan Radio Pemberontak kami. Saya memang tidak menanyakan siapa sebenarnya dia, karena jelas dia datang ke front Surabaya bersama rombongan Jawa Barat," tutur Bung Tomo saat diwawancarai oleh Suwardi Soewardjo pada 18 Agustus 1979.

Begitu sampai di Bandung, Madomiharna langsung diserbu pertanyaan-pertanyaan oleh para pemuda Bandung. Salah satunya: mengapa Bung Tomo berani-berani menuduh para pemuda Bandung sebagai bermental peuyeumbol? Dia lantas menjelaskan bahwa yang berpidato itu bukanlah Bung Tomo dari Surabaya, melainkan 'Bung Tomo dari Cicadas'.

Maka beramai-ramailah para pemuda Bandung mendatangi KNI Cicadas guna meminta pertanggungjawaban dari Soetomo. Namun bukannya Soetomo yang didapat, melainkan penjelasan mengejutkan dari pihak KNI Cicadas: Soetomo yang bernama asli Soebrata, bukanlah anggota KNI Cicadas. Dia hanya seorang bekas tahanan Jepang di Penjara Sukamiskin yang kerap terlibat praktek penipuan.

"Karena berkawan akrab dengan beberapa anggota KNI Cicadas, dia berhasil mencuri stempel KNI Cicadas dan membuat sendiri surat-surat supaya dia bisa ikut berangkat bersama delegasi Jawa Barat ke Kongres Pemuda di Yogyakarta," tulis Suwardi.