Bunyi sirine menandakan sudah waktunya imsak bagi daerah Bandung dan sekitarnya. Di hari terakhir menjelang lebaran, kaum ibu tak lagi melanjutkan tidurnya setelah sahur namun segera bergegas ke dapur memasak beragam makanan. Makanan ini nantinya akan dibagikan ke tetangga dan sanak saudara.

Begitulah kiranya gambaran yang diceritakan Mimi Suhaemi, warga Kota Bandung saat mengalami Ramadan di tahun 70-an. Satu hari sebelum lebaran adalah hari tersibuk di mana setiap rumah akan disibukkan dengan memasak beragam makanan khas Sunda. Tradisi memasak dan berbagi makanan ini dikenal dengan istilah Mawakeun.

Menjelang siang, anak-anak kebagian bertugas untuk membagikan makanan ke tempat tetangga dan sanak saudara. Makanannya beragam, mulai dari tumis kentang, daging bumbu merah, dan lainnya yang dikemas dalam rantang susun. Mawakeun selalu disambut oleh masyarakat karena ada hidangan daging yang jadi makanan mewah saat itu.

Mawakeun nyatanya tak hanya sekadar momentum berbagi makanan. Dari sana, tercipta gengsi di masyarakat karena rutinitas ini. Jika satu rumah tidak membagikan makanan pada orang lain, maka lingkungan sosial akan memberi stigma buruk pada keluarga tersebut.

“Kalau ada satu warga yang cuma nerima, nggak ngasih itu biasanya dicap pelit. Makanya jadi gengsi tersendiri kalau tidak ikut mawakeun,” ujar Mimi.

Mawakeun tak hanya berlaku bagi mereka yang sudah berumah tangga. Para gadis yang telah memiliki kekasih atau bahkan yang telah terikat pertunangan pun mengirim makanan pada calon mertuanya. Hal ini dipercaya akan menguatkan hubungan antara dua keluarga.

Menjelang sore, suara dentuman meriam menjadi tanda bahwa Ramadan akan segera usai. Selain menyiapkan kue lebaran, warga pun menyiapkan besek untuk dikirim ke masjid saat hari raya.

Saat lebaran, sejak dini hari warga membuat besek berisi makanan yang nantinya dibawa ke masjid bersamaan saat akan salat Idul Fitri. Uniknya, hidangan dalam besek ini disusun dengan urutan khusus. 

“Jadi dalam beseknya itu paling bawah buat nasi, terus ditutup oleh daun pisang. Nah, baru tumis, daging, dan masakan lainnya ditaruh di atas nasi. Lalu ditutup lagi daun pisang dan dikasih kerupuk merah di atasnya. Urutannya harus begitu,” tutur Mimi.

Jumlah besek yang dibuat pun tak sembarangan. Jumlahnya mengikuti ada berapa keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Jika ada lima orang, maka lima besek pula yang harus dikirimkan ke masjid. Nantinya, makanan itu akan didoakan oleh ustadz dan kemudian dibagikan kepada siapa saja. 

Tradisi ini juga dilakukan di daerah Tasikmalaya. Jika berkunjung ke kota ini, hampir setiap rumah memiliki balong atau kolam ikan di halamannya. Beragam ikan memenuhi balong dan akan dipanen saat menjelang lebaran.

Menurut penuturan Asep Yayat, jika tidak ada daging ayam atau sapi untuk berbagi, maka warga Tasikmalaya akan mengambil ikan yang ada di kolamnya. Kegiatan ini disebut ngabedahkeun. Tak tanggung-tanggung, saat ngabedahekeun warga akan menghabiskan ikan di balong dan menebar bibit ikan yang baru.

“Kalau tidak punya daging, isi balong dibedahkeun diambil aja semua ikannya dibagikan ke warga sekampung,” kata Asep yang tumbuh di kota Tasikmalaya.

Anak-anak turut riuh saat pembagian makanan ini. Bahkan terkadang mereka sengaja memakai sarung dan memilih makanannya sendiri. Tak seperti di Bandung yang makanannya diantarkan, di Tasikmalaya justru anak-anak lah yang mendatangi rumah tetangga atau masjid yang menjadi tempat pengumpulan makanan.

“Anak-anak teh pada pake sarung, makanannya dirawu (diambil dengan banyak) sarungnya dijadiin kantong. Kadang sok milih, ‘ah nu ieu mah laukna leutik’ (yang ini ikannya kecil) jadi diganti sama bungkus yang lain,” cerita Asep saat bernostalgia menceritakan pengalaman masa lalunya. 

Selain ikan, warga Tasikmalaya juga membuat tumpeng dan beragam lauk pauk yang disusun sedemikian rupa dan dinamakan jampana. Jampana ini akan disimpan di satu saung untuk dibagikan pada masyarakat.

Tradisi saling berbagi makanan ini sudah mulai memudar eksistensinya. Generasi muda mungkin tidak pernah mengalami beragam tradisi di atas dan hanya mendengar ceritanya dari kakek-nenek atau orang tua. Seiring berkembangnya waktu, modernisasi sedikit banyak telah menggerus beberapa tradisi warisan leluhur.

Di balik keberagaman budaya yang ada di tanah Sunda, menurut Asep yang terpenting adalah memaknai setiap kegiatan dalam tradisi tersebut. Bagaimana hal kecil seperti berbagi makanan ini bisa menguatkan hubungan antara manusia dengan manusia lain. 

Di zaman sekarang, menurutnya bahkan ada orang yang tidak mengenal tetangganya sendiri. Interaksi terhalang pagar-pagar tinggi sehingga minim terjadi. Padahal, sebagai makhluk sosial tentunya kehidupan manusia tak lepas dari kaitannya dengan manusia lain. Maka itu, menjalin hubungan dengan tetangga dan kerabat lainnya sangat diperlukan demi kelangsungan hidup manusia.