AYOBANDUNG.COM -- Apakah orang yang melakukan kejahatan hanya  karena kebutuhannya yang tidak terpenuhi? Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan faktor ekonomi. Faktor ekonomi kerap menjadi faktor atau alasan orang melakukan kejahatan. Namun, hal tersebut kembali lagi ke diri orang itu sendiri.

Mungkin faktor ekonomi ini dapat dikatakan sebagai peluang dalam melakukan kejahatan. Lalu bagaimana dengan eks napi yang kembali melakukan kejahatan? Apakah karena faktor ekonomi atau ada faktor lain yang melandasinya. Berita mengenai eks napi melakukan kejahatan belakangan ini ramai diperbincangkan.

Seperti yang telah diberitakan Ayobandung.com, Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengemukakan, 106 narapidana itu tersebar di 19 Polda. “Sampai dengan hari ini terdapat 106 napi asimilasi yang kembali melakukan tindak pidana di 19 Polda,” kata Ahmad saat jumpa pers di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2020).

Jika disandingkan berita di atas dengan penelitian psikologi dari buku Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, setidaknya ada 2  faktor psikologi yang berkaitan dengan berita tersebut.

Pertama, Perkembangan moral. Perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang dari segi proses penalaran yang mendasarinya. Perkembangan moral ini terdapat tiga tahap perkembangan yaitu: preconventional level, conventional level, dan postconventional level.

 Kebanyakan kejahatan dan penjahat berpikir pada tahapan praconventional. Namun, tidak selalu orang pada tahap tersebut melakukan kejahatan. Praconvectional merupakan tahap yang nilai dan moral anak umumnya terdiri dari “lakukan” dan “jangan lakukan”. Lalu bagaimana tahap praconventional pada orang yang melakukan kejahatan?

Pada tahap praconvectional seharusnya individu diberi pengarahan mana hal yang harus dilakukan dan mana yang jangan dilakukan. Sedangkan pada orang yang melakukan kejahatan bisa jadi dulunya tidak diarahakan mana perilaku yang seharusnya dilakukan dan jangan dilakukan atau perilaku yang jangan dilakukan ini diberi penguatan oleh orang tuanya. Sehingga, individu tersebut yakin bahwa perilaku kejahatan yang dilakukannya adalah perilaku yang wajar dilakukan.

Selanjutnya adalah internal dari dalam individunya itu sendiri. Seperti self control pada orang yang melakukan kejahatan itu sendiri, biasanya mereka yang melakukan kejahatan memiliki self control yang rendah. Selain itu juga, pada pelaku kejahatan memiliki hati nurani yang tidak berkembang dengan baik, beberapa orang yang melakukan kejahatan sulit untuk menempatkan dirinya pada orang yang terkena kejahatan atau korban.

Faktor psikologis di atas tentu hanya sebagiannya saja dan masih banyak faktor psikologis lainnya yang dapat menyebabkan kejahatan. Faktor ini bukanlah satu-satunya penyebab orang melakukan kejahatan. Faktor ekonomi dan juga faktor lingkungan berperan dalam individu yang melakukan kejahatan.

Seperti yang telah disebutkan di atas, dapat menjadi usaha preventif bersama dalam mencegah kejahatan. Diantaranya menanamkan nilai moral pada anak dengan baik, sehingga perkembangan moralnya pun dapat berkembang dengan semestinya. Serta menumbuhkan self control pada anak dan juga mengembangkan hati nurani menjadi bagian yang penting, agar mengurangi peluang kejahatan serta untuk menciptakan generasi yang terhindar dari perilaku kejahatan.

***

Eva Nuralimah, Mahasiswa Psikologi UPI.