CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Seorang pasien yang divonis positif Covid-19 di Cirebon mengirimkan surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo karena diisolasi selama 21 hari di RSD Gunung Jati.

RRP tak pernah menyangka dirinya akan divonis positif Covid-19. Pada 14 Maret 2020, di tengah pengisolasian atas dirinya RRP menerima informasi itu.

"Dinas Kesehatan (Dinkes Kota Cirebon) memberitahu saya positif Covid-19 dan saya kaget bertanya-tanya 'kok bisa', padahal saya enggak ada gejala apa-apa," ungkapnya saat dihubungi Ayocirebon.com, Sabtu (28/3/2020).

Awal Mula
RRP berkisah, sebelum pengumuman itu, pada 2 Maret 2020, dirinya mengalami demam. Suhu tubuhnya naik turun di kisaran 38°C-39°C.

"Awalnya saya kira tifus," ujarnya.

Tanpa batuk, tanpa pilek, tanpa gejala flu lainnya, menguatkan dugaan awal RRP terkena tifus. Setelah selama lima hari tanpa perubahan pada kesehatannya, RRP yang bekerja di Tangerang, Banten, dan tinggal di Jakarta itu akhirnya memutuskan pulang ke Cirebon.

Dia berharap, di tempat di mana keluarganya berada, kenyamanan akan membantu pemulihan kesehatannya. RRP kemudian memeriksakan diri ke RS Mitra Plumbon, Kabupaten Cirebon, pada 8 Maret 2020.

"Di sana, suhu tubuh dan darah saya dicek. Dokter bilang, trombosit saya tak turun, saya juga tidak kena tifus atau demam berdarah," ungkapnya.

Namun, dengan pertimbangan tempat tinggal dan area pekerjaannya di kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, dia pun harus menjalani pemeriksaan CT-scan dan rontgen.

Infeksi pun ditemukan pada paru-paru kirinya. Saran dokter untuk menjalani isolasi di RSD Gunung Jati, Kota Cirebon, disetujui RRP.

Malam itu juga dirinya dibawa dan dirawat ke ruang isolasi RSD Gunung Jati, Kota Cirebon. Sepekan pertama berada di sana, kondisi kesehatannya sempat menurun.

"Demam masih naik turun. Biasanya, setelah minum obat, demam turun, tapi kemudian naik lagi," cetusnya.

Pada 9 Maret 2020, RRP menjalani pemeriksaan swab pertama. Keesokan harinya, 10 Maret 2020, dia kembali menjalani pemeriksaan swab untuk kali kedua.

Sejak diisolasi, RRP tak berpikir dirinya terinfeksi virus Corona. Terlebih, tak ada batuk, pilek, nyeri pada sendi tubuh, atau bahkan sesak nafas, dirasakannya sejauh itu.

Gejala-gejala itulah yang setidaknya diketahui RRP menunjukkan seseorang terinfeksi virus Corona. Sementara, dirinya sebatas demam.

Karena itu, terkejutlah dia ketika Dinkes Kota Cirebon memberitahu dirinya positif Covid-19 pada 14 Maret 2020. Dari situlah RRP mengetahui, tak semua orang memiliki gejala yang sama.

"Ada yang gejalanya batuk, pilek, demam, sesak nafas. Tapi ada juga yang hanya demam saja seperti saya, tanpa batuk, pilek, dan gejala lain yang selama ini saya tahu. Saya belajar dari situ," tuturnya.

Salah satu momen yang masih diingatnya saat itu adalah ketika keterkejutannya direspon pihak Dinkes dengan sebuah pertanyaan, "Lho, baru tahu? Rumah sakit belum memberitahu?" kata RRP menirukannya.

RRP mengaku, hasil pemeriksaan swab baru diketahuinya dari pihak Dinkes. Belakangan diketahui, pihak rumah sakit mengaku, surat pernyataan hasil pemeriksaan swab RRP baru diterima pada 14 Maret, bertepatan dengan waktu Dinkes menyampaikannya kepada RRP.

Momen itu menjadi pintu yang membuka opini RRP terhadap penanganan pasien Covid-19. Kemudian, pada 14 Maret itu pula dirinya menjalani pemeriksaan swab kali ketiga.

Semenjak itu sampai hari ini atau setidaknya selama 14 hari, RRP belum mengetahui hasil pemeriksaannya yang ketiga. Total, dia sudah diisolasi selama 21 hari.

Selain dokter dan perawat, interaksi sosialnya hanya dilakukan secara virtual melalui smartphone yang dapat diaksesnya secara penuh.

"Jenuh banget, mbak, saya bolak balik liat smartphone, lihatnya itu lagi, itu lagi," ungkapnya setengah berkelakar.

Penantian menunggu hasil swab ketiga, diakuinya memberatkan secara psikis. Terlebih, dia harus menjalani pemeriksaan swab sejumlah enam kali. 

Dari dokter spesialis paru-paru yang menangani dan berhak menyampaikan informasi soal dirinya, RRP mengetahui, hasil swab dirinya harus negatif dua kali berturut-turut sebelum kemudian diizinkan pulang.

Bila swab pertama dan kedua hasilnya positif, RRP berharap swab ketiga dan keempat kelak menunjukkan hasil negatif.

Kondisi kesehatan RRP sendiri, sejak 14 Maret menunjukkan perkembangan memuaskan. Dinkes Kabupaten Cirebon sendiri sebelumnya telah menyampaikan RRP berpeluang sehat.

"Kondisi saya secara fisik membaik. Sejak 14 Maret tidak demam lagi sampai sekarang," ujar RRP.

Namun, sampai pemeriksaan swab dilakukan sesuai prosedur, dirinya masih harus menjalani isolasi seorang diri. Di dalam ruangan yang berbeda dengan pasien dalam pengawasan (PDP), dia harus terus menahan diri untuk tak terjebak pada tekanan psikis.

RRP mengungkapkan, yang paling menakutkan saat ini bukanlah Covid-19 itu sendiri. Dia mengungkapkan, dokter sudah mengingatkan, dengan usianya yang masih produktif tingkat pemulihan dirinya lebih cepat dibanding mereka yang berusia lanjut.

"Nyatanya, tingkat kesembuhan (pada kasus Covid-19) lebih tinggi dibanding kematian. Yang paling harus dijaga adalah imunitas tubuh yang baik," paparnya.

Surat Untuk Presiden
Kejenuhan yang mulai menggerogoti mendorong RRP kemudian menuliskan sebuah surat kepada Presiden RI, Joko Widodo dan Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto.

Surat yang ditulisnya secara digital itu diterbitkan melalui akun Instagram dan Twitter miliknya. Di dalamnya, dia terutama menyoroti lama masa penerimaan hasil swab ketiga miliknya dari laboratorium pusat.

RRP salah satunya membeberkan alur hasil swab dari pusat yang prosedurnya berlaku birokratis. Sebelum sampai ke tangan rumah sakit dan diinformasikan kepada pasien, hasil swab dari pusat harus terlebih dulu disampaikan kepada pemerintah provinsi, kemudian turun ke Dinkes di daerah, pihak rumah sakit, sebelum kemudian disampaikan kepada pasien.

"Bayangkan mbak, saya sudah 21 hari diisolasi. Saya pasien paling lama di sini (RSD Gunung Jati)," ungkapnya.

Dia mengaku, sudah lama menahan kritiknya terhadap penanganan Covid-19. Perlu keberanian besar untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya kini ke hadapan khalayak, khususnya pemerintah, di tengah situasi sulit yang dihadapi pula rakyat di belahan negara lain.

Terlebih, RRP menyandang status sebagai aparatur sipil negara (ASN). Kondisi itu sempat menjadi pertimbangan terbesarnya untuk mengeluarkan unek-unek kepada pemerintah.

Namun, restu keluarga, terutama sang ibu, dan teman-temannya, membulatkan tekad RRP untuk menuliskan surat terbuka kepada presiden dan menkes.

"Ibu saya bilang, masalah ini dialami banyak orang. Ibu meyakini, ada alasan kenapa saya yang dipilih untuk ini dan beliau meminta saya melanjutkan," ungkapnya.

RRP juga meminta izin kantor sebelum memposting suratnya ke media sosial. Dengan pesan pihak kantor untuk membuat penyampaian secara sopan, RRP pun lalu menerbitkannya sehari lalu.

Sampai hari ini, surat itu telah disukai lebih dari 5.000 orang di Instagram dan ditanggapi 7.000 orang pada akun Twitter miliknya. RRP mengaku, sejak diterbitkan, surat itu beroleh ragam tanggapan.

"Banyak di antaranya yang mendukung situasi yang saya hadapi, mereka menunggu dan berharap hasil pemeriksaan segera keluar," katanya.

RRP dan banyak pasien lainnya berharap, ada birokrasi yang dipangkas dalam penanganan Covid-19. Pemberitahuan hasil swab secara cepat dan tepat dipandang akan membantu pula meringankan beban tenaga medis di rumah sakit.

Pasien sendiri akan beroleh treatment yang tepat dari tenaga medis untuk pemulihan sesegera mungkin. Dengan penanganan semacam itu, ruang-ruang perawatan di rumah sakit pun berpotensi tak harus sepenuh sekarang.

Seperti yang disampaikan RRP, ketakutannya bukanlah Covid-19. Tantangan terbesarnya saat ini adalah menahan kejenuhan yang mulai menggerogoti, mencegahnya menghabisi semangat, selain pula kerinduan pada rumah.