AYOBANDUNG.COM -- Deru laju kendaraan menemani langkah Meiwan Dani Ristanto ketika sedang dalam perjalanan menuju tempat narasumbernya berada. Dani adalah seorang jurnalis yang sudah 3 tahun bekerja di bawah naungan perusahaan media Radar Tegal. Ia sudah berpengalaman melakukan kegiatan reportase di berbagai wilayah dengan tantangan yang berbeda-beda. Tantangan kali ini adalah mencari dan menyebarkan informasi di tengah hiruk pikuk pemberlakuan social distancing akibat pandemi Covid-19.

Melansir kpi.go.id, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat telah mengeluarkan surat edaran Nomor 156/K/KPI/31.2/03/2020 tentang Peran Serta Lembaga Penyiaran Dalam Penanggulangan Persebaran Wabah Corona. Surat edaran ini bertujuan mengajak seluruh lembaga penyiaran agar mensosialisasikan upaya pencegahan pandemi Covid-19 terutama imbauan untuk social distancing measure bagi masyarakat Indonesia.

“(social distancing measure) bagus sebagai upaya pencegahan penularan. Tetapi wartawan tidak bisa seperti itu. Jadi, kita selalu sedia APD (Alat Pelindung Diri), karena jurnalis paling rawan tertular Covid-19,” terang Dani menanggapi adanya gerakan itu.

Dani telah memantapkan diri di dunia jurnalistik. Sebagai seorang wartawan dia sangat menyadari ada tuntutan untuk selalu siap bekerja di situasi apapun. Kendati demikian, dia selalu memegang teguh anggapan “tidak ada berita seharga nyawa”. Karena itu, apapun keadaannya keselamatan tetap menjadi hal utama.

Social Distancing bagi Wartawan

Setelah mengalami hari yang panjang dengan melakukan liputan di Dinas Kesehatan Kota Tegal, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Satgas Covid-19 Kota Tegal. Malam itu (23/3/2020), Dani tidak bisa langsung ditemui karena harus menyelesaikan beberapa laporan. 

Dengan membawa hasil liputan mengenai pencegahan, imbauan, dan  sosialisasi untuk melakukan gerakan social ditancing sebagai langkah pencegahan Covid-19, laporan tersebut kemudian masuk di laman media Radar Tegal.

Dani menceritakan pengalamannya selama meliput tentang Covid-19. Berbeda dengan hari-hari biasanya, para wartawan diberi APD selama melakukan kegiatan reportase. Meskipun APD untuk wartawan belum disediakan oleh seluruh perusahaan media, aturan agar tetap waspada dan memakai APD selama kegiatan reportase berlangsung sudah digaungkan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

Mengutip laman aji.or.id, AJI menyerukan beberapa prinsip dalam peliputan dan pemberitaan Covid-19. Salah satu seruannya membahas mengenai standar keamanan yang harus diterapkan oleh jurnalis di lapangan. 

Dalam meliput soal pandemi Covid-19, jurnalis perlu mengikuti saran ahli atau otoritas setempat agar tak ikut menjadi korban Covid-19. Salah satu caranya adalah dengan memakai peralatan keamanan yang memadai, yaitu masker jika mewawancarai orang yang memiliki atau berpotensi terinfeksi Covid-19. Selain masker, jurnalis harus menjaga jarak aman dengan objek yang kemungkinan bisa menjadi perantara penularan virus ini.

“Media (atau wartawan) tetap harus turun apapun risikonya. Kalau tidak ada media, masyarakat tahu informasi perkembangan Covid-19 dari mana? Karena yang tersebar di WhatsApp, media sosial, dan bukan dari media resmi (sebagian besar) hoaks. Itu risiko sebagai jurnalis,” tutur Dani menjelaskan tuntutan dari pekerjaannya saat ini sebagai pekerja media.

Melansir mediaindonesia.com, Asnil Bambani selaku ketua AJI Jakarta mengimbau jurnalis untuk mengutamakan kesehatan dan keselamatan karena tidak ada berita seharga nyawa. 

Bagi Dani, adanya social distancing measure tetap membantu para pekerja media meskipun pada kenyataannya mereka tidak merasakan social distancing yang sebenar-benarnya. Namun, ketika masyarakat mengikuti gerakan ini dengan baik maka mereka secara langsung membantu pemerintah dalam meminimalisir jatuhnya korban pandemi Covid-19. 

“Jika masyarakat bersama-sama menjalankan social distancing measure ini, mereka tidak hanya membantu pemerintah, mereka juga menghargai kami yang masih harus bekerja di bawah pandemi ini,” kata Dani.

***

Rahajeng Desna Ramadhani, penulis amatir dengan nama pena Radesna. Tercatat sebagai mahasiswa Jurnalistik di Universitas Padjajaran.