AYOBANDUNG.COM -- Gelar, khususnya gelar akademik, tampaknya masih dianggap mahapenting oleh sebagian besar masyarakat kita. Akibatnya, tidak sedikit dari kita yang silau gelar dan mendewa-dewakannya. Padahal, sepanjang kita mau hidup lurus dan lebih mementingkan kualitas diri, tanpa gelar apa pun kita akan tetap mampu menjadi manusia yang menorehkan berbagai prestasi, yang dihargai dan dihormati.

Selain untuk menaikkan prestise, faktor ekonomi menjadi pendorong mengapa orang masih berlomba-lomba memenuhi ambisi mereka untuk mendapatkan gelar-gelar akademik. Di banyak instansi, promosi pangkat maupun jabatan memang masih mensyaratkan gelar akademik sebagai kriteria utamanya. Lazimnya, semakin tinggi gelarnya, bukan saja semakin tinggi prestise dan posisinya, tetapi juga semakin besar kekuasaannya serta semakin besar pula gaji dan tunjangan-tunjangannya.

Repotnya, akibat terobsesi meraih gelar akademik ini, sebagian orang lantas melakukan cara-cara tak elok dengan memilih jalan menerabas yang instan. Hasil dari upaya menerabas dan instan itu kemudian lahirlah apa yang diistilahkan sebagai gelar bodong, gelar palsu atau gelar abal-abal. Gara-garanya yaitu proses kepemilikan gelar itu yang tidak mengikuti prosedur dan rambu-rambu yang semestinya.

Kosmetika ampuh

Sejatinya, gelar adalah cangkang, bungkus, kemasan--kesing, kata anak-anak muda sekarang. Padahal, yang paling penting itu isi. Bukan cangkang, bungkus atau kemasannya. Namun, realitanya, kita sering lebih terpesona dengan bungkus dan kemasan. Di zaman konsumeristik seperti sekarang ini, pameran penampilan dengan mengedepankan bungkus atau kemasan telah menjadi sebuah prioritas yang dianggap lumrah. Dan gelar akademik mentereng--apalagi segambreng--menjadi salah satu kosmetika ampuh untuk mengatrol penampilan diri.

Mestinya kita harus lebih mengedepankan kualitas diri, bukan menonjol-nonjolkan gelar itu sendiri. Dari aspek kejiwaan, sangat boleh jadi orang-orang yang hanya mementingkan dan bersandar pada gelar semata hanyalah orang-orang yang kurang pede dan kemungkinan besar menyandang kualitas diri yang rendah. Untuk memenambah rasa pede diri mereka dan agar dipandang memunyai kualitas diri yang istimewa, mereka berupaya memperlengkapi diri mereka dengan berbagai gelar, yang terkadang diperoleh dengan cara-cara yang tidak sepantasnya.

Sesungguhnya, justru akan sangat luarbiasa tatkala kita mampu menunjukkan kualitas diri kita yang prima tanpa diembel-embeli gelar alias titel apa pun. Agaknya oleh karena lebih mementingkan kualitas diri inilah, kini beberapa perusahaan mulai menekankan pada aspek-aspek lain di luar gelar akademik dalam perekrutan dan promosi karyawannya. Salah satu contohnya adalah Google. Para petinggi perusahaan multinasional yang berbasis di California itu memandang kemahiran, kreativitas, pengalaman dan ketekunan jauh lebih penting ketimbang hanya aspek formalitas macam gelar dan ijazah. Dengan demikian, bagi mereka, gelar saja belum menjadi jaminan untuk menunjukkan bahwa seseorang itu istimewa.

“A degree really doesn’t say what a graduate can do,” kata Laszlo Bock, mantan Senior Vice President Google, tatkala suatu saat diwawancarai oleh surat kabar The New York Times.

Nah!

***

Djoko Subinarto, Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.