AYOBANDUNG.COM -- Ada dua peristiwa yang selalu diingat ketika membahas hubungan Amerika Serikat-Cina. Pertama, lawatan Henry Alfred Kissinger pada tengah malam dari Rawalpindi, Pakistan ke Beijing, 9 Juli 1971.

Lawatan Kissinger berlangsung di tengah hubungan Cina-Uni Soviet yang tidak serasi. Pada 2 Maret 1969, tentara Cina menyerang pasukan Uni Soviet di pulau Damansky (Zhenbao), di sungai Ussuri. Sengketa perbatasan itu menjadi bara dalam hubungan kedua negara hingga tahun 1980-an.   

Kedua, saat PM Zhou Enlai mengajak Presiden Richard Milhous Nixon makan malam di Restoran Quanjude, di Beijing, Februari 1972. Zhou ingin memecah kebuntuan sambil makan bebek panggang yang terkenal lezat itu.

Kedua pihak bertemu dengan niat bekerja sama untuk tujuan berbeda. AS ingin menghancurkan Uni Soviet dan Pakta Warsawa dengan menerapkan strategi pengepungan setengah dan satu setengah dari dua sisi. Soviet akan dijepit NATO di Barat dan dengan Cina-AS di Timur.

Tujuan berikutnya adalah memanfaatkan kondisi domestik Cina sebagai lahan investasi dan pasar bagi produk-produk Amerika Serikat.

Washington-Beijing membuka kantor penghubung dan kemudian meresmikan hubungan diplomatik pada 1979. Sebagai ‘sekutu’ baru, Cina memperoleh berbagai kemudahan misal, dalam perdagangan, teknologi dan pendidikan. Ternyata semuanya dimanfaatkan secara maksimal untuk mencapai target Made in Cina 2025.

Zhou punya pikiran yang sejalan dengan kemudahan yang diberikan Washington. Dia mau membawa 800 juta rakyatnya keluar dari isolasi dan bangkit dari keterpurukan. Zhou yang realistis ingin membawa Cina menuju dataran ekonomi.

Sebelumnya, pemimpin Mao Zedong menjalankan pembersihan dan konsolidasi politik. Mulai dari Long March, Revolusi Seribu Bunga, Lompatan Jauh Ke Depan dan Revolusi Kebudayaan (1966-197).

Ross Terril, pengamat Cina, mengungkap pada Revolusi Kebudayaan seorang ahli radar dipaksa ke desa dan menjadi petani. Rakyat diindoktrinasi bahwa pemimpin Mao adalah penyelamat bangsa. Buku Merah yang berisi ajaran sang Pemimpin jadi bacaan wajib.

Mao berhasil mengkonsolidasikan rakyatnya secara politik tetapi menurut Bank Dunia, Produk Domestik Bruto Cina pada 1960-an ketinggalan dibandingkan dengan negara susah seperti Kampuchea dan Sierra Leone.

Peran Deng Xiaoping

Zhou mendukung Revolusi Kebudayaan, tetapi tidak sepenuh hati. Dialah yang mengajak Deng Xiaoping yang reformis masuk ke dalam jajaran pemimpin partai pada Kongres Partai ke X tahun 1973.

Keduanya bekerja sama. Zhou yang membuka jalan mendekatkan diri dengan Barat. Deng menjadi eksekutor kebangkitan dan revitalisasi ekonomi.

Upaya reformasi Deng tidak mudah. Jiang Qing (istri terakhir Mao Zedong), Zhang Chunqiao, Yao Wenyuan, and Wang Hongwen yang dikenal sebagai Kelompok Empat menentangnya. Pertarungan sengit terutama terjadi setelah Mao wafat, 1976. Untunglah PM Hua Guofeng cs mendukung.

Deng, ketika menjadi PM di tahun 1980, dengan cerdik merombak perekonomian ke arah kapitalis. Ungkapannya yang terkenal,... tidak peduli kucing hitam atau putih. Yang penting dapat menangkap tikus.

Terkait minimnya pengalaman negara dalam reformasi ekonomi, Deng mengumpamakan..kita seperti sedang berjalan di sungai. Terkadang kaki menginjak batu.

Dia juga memanfaatkan kharisma Mao. Jenazahnya dibalsem dan ditempatkan di bagian timur lapangan Tienanmen. Fotonya yang memandang lapangan terluas di dunia itu dipasang di dinding Kota Terlarang.

Ribuan orang mendatangi jenazahnya. Puluhan ribu orang yang melintas melihat fotonya karena antara Kota Terlarang dan Lapangan Tienanmen terdapat dua ruas jalan raya yang lebar.

Deng lebih mendahulukan reformasi ekonomi, keuangan, perdagangan, investasi dan penegakan hukum dibanding politik. Inilah yang membedakannya dengan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev yang melancarkan Glasnost dan Perestroika sekaligus.

Tiap orang boleh mengelola lahan, tetapi tak memilikinya.Kebijaksanaan ini memungkinkan pemerintah membangun proyek-proyek infrastruktur tanpa halangan. Mudah membangun jalan bebas hambatan, sekalipun sepanjang mata memandang.

Pemerintah tegas terhadap perilaku korupsi. Koruptor diarak keliling kota. Kemudian ditembak mati di siang hari. Deng juga menyediakan peti mati untuk dirinya.

Bila sekarang perekonomian Cina menjadi kedua terbesar di dunia, maka hal itu berkat konsistensi dari Deng Xiaoping (1978-1989), Jiang Zemin (1989-2002), Hu Jintao (2002-2012) dan Xi Jinping (2012 – sekarang).

Para investor juga tidak peduli bahwa tuan rumah pernah berbeda faham politik. Yang penting ada kepastian berusaha, tersedia tenaga kerja berupah murah, pasar domestik yang luas dan kemudahan ekspor-impor.

Cina menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001 dan AS memasukkannya ke dalam Most Favoured Nations (MFN) yang berarti memperoleh kemudahan dalam hubungan dagang serta investasi dengan AS. Sekalian fasilitas itu membuat Cina mampu mengekspor produk ke 65 negara dan mengimpor dari 33 negara.

Menurut perusahaan konsultan Price Waterhouse Cooper, PDB Cina mencapai US$ 9.732 pada akhir 2018. Naik 180 kali dibandingkan dengan tahun 1952.

Cina telah menempati posisi kedua menggeser Jepang. Pada 2030 diperkirakan menjadi yang pertama, mengganti AS sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Terancam Wabah COVID-19

Keberhasilan Cina disebabkan kecerdikan memanfaatkan peluang yang disediakan dunia dan kemampuan para pemimpin meyakinkan dan memobilisasi rakyat. Prestasi yang diraih menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Muncul ketergantungan pasok energi, bahan tambang dan kestabilan di pasar luar negeri. Beijing mengupayakannya dengan bergaya sebagai negara berkembang, memprioritaskan diplomasi ekonomi, investasi dan pembangunan di banyak negara, termasuk Afrika.

Prakarsa One Belt and One Road (OBOR) yang digagas dalam kunjungan Presiden Xi Jinping ke Indonesia dan Kazakhstan, merupakan konsekuensi menjaga keberlangsungan sebagai negara besar. Lebih dari 70 negara dilibatkan dalam proyek transportasi, infrastruktur, investasi dan perdagangan tersebut. Australia, India, Jepang dan AS menentangnya.

Walaupun menentang dari waktu ke waktu, pengusaha-pengusaha Barat memperoleh manfaat dari keberhasilan Cina. Produsen Boeing, Airbus, otomotif dan produk-produk konsumtif kebanjiran pesanan. Cina yang mempunyai buruh murah menjadi ladang perusahaan –perusahaan asing membuat produk-produk intermediaries.

Kondisi serupa itulah yang menyebabkan wabah Convid-19 di Wuhan, provinsi Hebei berdampak ke seluruh dunia. Mirip seperti yang digambarkan dalam teori Kepakan Kupu-Kupu, ..kepakan halus kupu-kupu di Brasil, Amerika Selatan dapat dirasakan getarannya di lain benua.

Pelemahan ekonomi Cina menyebabkan bisnis pariwisata dunia dan turunannya lesu. Industri perakitan mobil di Indonesia terancam. Perusahaan-perusahaan penerbangan terancam merugi karena calon penumpang cemas dengan wabah virus Corona.

Ditinjau dari segi waktu, wabah Covid-19 sepertinya merupakan rentetan pelemahan proses kebesaran Cina. Berada dalam satu rangkaian dalam Perang Dagang yang dilancarkan Presiden Donald Trump, sekalipun sejauh ini asal muasal Covid-19 diduga berasal dari hewan. Dugaan paling akhir adalah trenggiling.

Belum usai penyebaran Covid-19, Amerika Serikat beberapa hari lalu menghapus status Cina sebagai negara berkembang bersama Brasil, Indonesia dan Afrika Selatan. AS mencabut preferensi khusus keempat negara dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Apakah perekonomian Cina akan lesu karena wabah Covid-19?

Para pengamat memperkirakan pertumbuhan ekonomi Cina akan berada di bawah 5%. Kemerosotan serupa juga akan dirasakan berbagai negara yang selama ini menjadi mitra Cina. Jadi seluruh dunia murung.

Dalam konteks ini masuk akal, ketika Menlu Retno Marsudi dalam pertemuan Menlu Asean-Cina di Vientiane, Laos, Kamis, 20 Februari 2020 menyerukan kolaborasi Asean-Cina memerangi wabah virus Covid-19.

Jadi mayoritas negara sebenarnya tidak ingin Cina, dengan cadangan devisa per Desember 2019 mencapai US$3.104.924 miliar, terpuruk gara-gara Covid-19. Mereka memerlukan bantuan.

Mengapa AS gelisah dengan kemajuan Cina?

Mustahil pemerintahan Presiden Nixon dengan pembantunya yang brilian tidak memperkirakan Cina akan memanfaatkan kemudahan yang diberikan.

Atau Nixon dan Kissinger tak faham, saat Zhou Enlai menggunakan sumpit ketika menikmati bebek panggang.

Ada falsafah di balik penggunaan sumpit. Masing-masing batang sumpit bisa digunakan untuk apa saja. Menjepit atau menusuk tanpa diketahui lawan. Tidak seperti sendok dan garpu yang sudah diketahui fungsinya.

Sjarifuddin Hamid, Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.