AYOBANDUNG.COM – Sebagai urang Sunda, kita mestinya merasa bangga dengan bahasa Sunda. Begitu pula dengan orang Minang, orang Madura atau orang Papua. Mereka mesti bangga dengan bahasa daerah mereka. Bukan malah sebaliknya.

Tak perlu malu atau merasa rendah diri ketika kita berbicara dalam bahasa daerah. Kedudukan bahasa daerah sama tingginya dengan bahasa nasional maupun bahasa internasional. Tidak lebih dan tidak kurang.

Dalam khazanah kebahasaan, memang dikenal apa yang disebut sebagai proses seleksi alam yakni tatkala bahasa-bahasa yang ada saling bersaing adu kuat dan saling menaklukkan. Ada yang mampu bertahan. Ada juga yang terpaksa lenyap dari peredaran.

AYO BACA : Tantangan Sekolah dan Peran Guru Bahasa di Era Pendidikan 4.0

Sebuah bahasa dapat pula punah karena masyarakat penutur bahasa tertentu secara sadar memilih berpaling kepada bahasa lainnya. Mereka memilih meninggalkan bahasa mereka karena alasan-alasan tertentu, seperti kepentingan ekonomi serta perasaan lebih superior dan bergengsi tatkala menggunakan bahasa yang dipilihnya tersebut.

Hal itu pernah terjadi di Irlandia ketika masyarakat di sana memilih meninggalkan bahasa daerah mereka (bahasa Irlandia) dan beralih menggunakan bahasa Inggris. Motivasi mereka meninggalkan bahasa Irlandia karena bahasa Inggris dianggap lebih keren dan lebih menguntungkan secara ekonomi. Karenanya, para orang tua di Irlandia merasa tidak penting untuk menggunakan dan mengajarkan bahasa Irlandia kepada anak-anak mereka. Buntutnya, perlahan namun pasti, bahasa Irlandia tergusur oleh bahasa Inggris hingga hanya menyisakan penuturnya dalam jumlah yang sangat kecil sehingga bahasa ini akhirnya dinyatakan telah mati.

Fenomena seperti yang terjadi di Irlandia itu, sampai batas-batas tertentu, agaknya sudah terjadi pula di Indonesia. Ada kecenderungan sekarang ini sementara orang tua di negara kita lebih memilih berkomunikasi dengan anak-anak mereka menggunakan bahasa Indonesia saja ketimbang menggunakan bahasa daerah mereka.

AYO BACA : Tak Bisa Bahasa Sunda, Wali Kota Depok Enggan Masuk Provinsi Bogor Raya

Yang lebih menggelikan adalah fenomena yang terjadi di sebagian kalangan anak-anak muda kita yang, dengan pelbagai alasan, merasa sungkan untuk menggunakan bahasa daerah. Dalam konteks bahasa Sunda, misalnya, sebagian generasi yang lebih muda di Tatar Sunda kiwari mulai dihinggapi perasaan seperti ini. Mereka ogah, bahkan malu, berbahasa Sunda. Sebagian lagi merasa minder dan kurang pede apabila berbahasa Sunda. Jika fenomena seperti ini terus menguat, tentu saja akan berpengaruh besar terhadap keberadaan bahasa Sunda di masa depan.

Sejatinya, bahasa daerah memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan bahasa nasional maupun bahasa internasional. Semua sekolah di muka bumi ini seyogianya bukan cuma mengajarkan kepada para anak didiknya bahasa nasional dan bahasa internasional, tetapi juga harus mengajarkan bahasa daerah. Pengajaran bahasa daerah ini diperlukan untuk meningkatkan identitas lokal dan melindungi budaya-budaya daerah serta mengembangkan dan meningkatkan konsep toleransi.

Terlepas dari itu semua, persoalan pelestarian bahasa daerah sendiri sesungguhnya terkait dengan soal kesadaran dan kemauan dari para pemilik dan pengguna bahasa daerah. Segencar apa pun upaya untuk memajukan dan melestarikan bahasa daerah, apabila tidak ada kesadaran serta kemauan dari para pemilik dan pengguna bahasa daerah bersangkutan untuk ikut terus memeliharanya, tetap saja hasilnya akan nihil. Ujungnya, tidak menutup kemungkinan bahasa daerah bersangkutan pada akhirnya akan mati.

Kita berharap bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia akan tetap mampu bertahan dan lestari. Harapan tersebut hanya bisa terpenuhi selama para pemilik dan pengguna bahasa daerah memiliki kesadaran serta kemauan sungguh-sungguh untuk tetap menjaga, memelihara dan melestarikan bahasa daerah mereka. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa utama di lingkungan keluarga.

Djoko Subinarto 

Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

AYO BACA : Alquran Terjemahan Bahasa Sunda dan Palembang Resmi Diluncurkan